Urbanisasi di negara industri.

Pengertian urbanism (urbanisme) adalah Biasanya istilah ini dipakai sebagai sinonim untuk urbanisasi. Istilah ini mengacu pada efek sosiokul­tural dari meningkatnya sebagian populasi di kota, khususnya metropolitan. Istilah ini juga dipakai untuk menunjukkan ciri spesifik dari kehidupan urban yang diper­tentangkan dengan kehidupan pedesaan. Di AS, istilah yang sama sering dipakai sebagai sinonim untuk perencanaan kota (seperti kata Perancis urbanisme).

Urbanisme dan perkembangan industri.

Urbanisasi adalah salah satu fenomena ter­penting di abad industri, melibatkan per­pindahan jutaan individu dan menimbulkan perubahan besar dalam mode dan problem kehidupan sosial. Dalam bahasa teknis, ur­banisasi adalah efek dari dua proses berbeda: perpindahan ke kota, yakni migrasi dari area pedesaan ke perkotaan, dan tingginya demo­grafi natural di kalangan urban ketimbang populasi pedesaan. Di negara industri, urbani­sasi hampir semuanya merupakan migrasi ke kota, sedangkan di negara berkembang, terutama di Asia dan Afrika, gap dalam tren demografis ini juga berperan. Di negara industri, gelombang urbani­sasi penting pertama dan pertumbuhan ur­ban terjadi di abad 19 (Weber, 1899; Mum­ford, 1966). Di United Kingdom, populasi perkotaan naik dari 24 persen pada 1800 menjadi 77 persen pada 1900. Manchester adalah desa dengan penduduk kurang dari 10.000 orang pada awal abad ke-18; pada 1801 penduduknya sekitar 70.000 orang dan pada 1.851 menjadi lebih dari 300.000 orang. London sudah menjadi metropolis pada tahun 1900, dengan 5 juta penduduk dengan variasi etnis dan kebangsaan. Akan tetapi, di Jerman, Prancis dan AS urban­isasi dan pertumbuhan kota besar juga mengejutkan. Misalnya, penduduk Berlin naik dari 200.000 orang pada awal abad 19 menjadi 1.5 juta pada 1890; penduduk Paris naik dari 500.000 pada 1800 menjadi 2.5 juta pada akhir abad ke-19. Meskipun demikian, baru di abad 20 urbanisme men­jadi mendunia dan menarik perhatian ilmu­wan sosial. Di negara industri, tiga perem­pat populasi kini tinggal di kota dengan penduduk lebih dari 100.000 jiwa atau di area suburban di pinggiran metropolis yang penduduknya jutaan, namun di negara ber­kembanglah pertambahan populasinya ber­jalan paling cepat. Migrasi ke kota pertama kali dilakukan oleh penduduk di sekitar kawasan kota, dan kemudian, dengan berkembangnya sistem transportasi dan komunikasi modem, meli­batkan penduduk di seluruh negeri atau bah­kan di skala internasional. Peningkatan jum­lah. kota besar mengubah problem kehidupan sosial (Iihat juga SuBuRB), yang berbeda de­ngan situasi praindustri yang didasarkan pada kormmitas yang relatif stabil dan rukun. Aliran sosiologi Ci itcAGo socioLoGY (Park et. al., 1952) merumuskan interpretasi ber­dasarkan pengalaman Amerika. Ia bukan hanya menegaskan perbedaan antara cara hidup urban dan rural, tetapi juga perbe­daan di dalam area urban antara distrik sentral yang padat yang dicirikan oleh mo­bilitas populasi, heterogenitas sosial dan deteriorisasi kondisi hidup di kalangan berpenghasilan rendah, di satu sisi, dengan pemukiman suburban yang relatif stabil dan homogen yang dihuni oleh penduduk berpendapatan menengah ke atas, di sisi lain. Interpretasi ini dikembangkan oleh Wirth, yang mengosentrasikan perhatian­nya pada faktor lingkungan sebagai matrik dasar untuk perbedaan antara kualitas ke­hidupan urban dan rural dan untuk perbe­daan yang ada di antara jenis kota. Ciri fundamental kehidupan sosial urban diidentifikasi sebagai anonimitas, imper­sonalitas dan superfisialitas dan kerusakan lingkungan. Kemunculan bukti empiris yang tak bisa disanggah telah memicu pengkajian ulang atas interpretasi mazhab Chicago. Pengala­man kota-kota di Eropa dan perkembangan bentuk suburbanisasi kelas pekerja di Ameri­ka menimbulkan keraguan akan pemetaan dari aliran Chicago. Lagi pula, perhatian dikonsentrasikan pada variabel sosiologis yang berbeda dengan variabel lingkungan yang diidentifikasi oleh Wirth. Misalnya, Gans berpendapat bahwa “di dalam kondisi transien dan heterogen, orang hanya ber­interaksi dalam kerangka peran segmental yang diperlukan untuk mendapatkan pela­yanan lokal. Jadi hubungan sosial mereka menunjukkan anonimitas, impersonahtas dan superfisialitas” (1.968, h. 103). Karena instabilitas residensial bukan ciri kota saja tetapi juga ciri dari beragam area urban, maka perbedaan jalan hidup dan perilaku sosial diinterpretasikan dengan mengguna­kan variabel sosial klasilc, seperti kelas so­sial, daur-hidup, struktur keluarga dan ling­kungan dan sebagainya. Interpretasi yang dirumuskan oleh sosiologi perkotaan yang baru (Mingione, 1986) memandang urban­isme tercermin dalam perubaban sosial be­sar di mana lingkungan bertindak hanya sebagai latar belakang untuk perubahan dalam relasi sosial dan strategi hidup. Prob­lem krusial dalam transformasi ini adalah pelemahan dan adaptasi konteks dan sum­ber daya resiprokal yang beriringan dengan perluasan ekonomi pasar dan konsentrasi sebagian besar populasi di area urban, dan juga kontradiksi dan pertumbuhan tak mera­ta dalam sumber daya moneter dan konteks asosiatif di antara kelas dan kelompok ke­pentingan. Faktor-faktor ini menimbulkan ketimpangan, menimbulkan konflik sosial baru. Area sosial baru dipinggirkan oleh cara baru dalam mendistribusikan sumber daya sosial dan organisasi representasi ke­pentingan politik. Adanya “persoalan pe­rumahan” atau persoalan daerah miskin dan marginalisasi, kemunculan problem ekologi, meningkatnya kesulitan dalam mengontrol, menjalankan dan menyesuaikan sistem jasa dan transportasi yang kompleks yang lebih mahal dan meluas tak lain adalah aspek dari transformasi tersebut yang lebih jelas di kota­kota kontemporer ketimbang aspek lainnya. Tetapi aspek ini tidak bisa hanya dikatakan sebagai perbedaan lingkungan. Salah satu persoalan dasar urbanisme di negara industri yang sering diperdebatkan adalah efek progresif dan tak terelakkan dari perkembangan industri. Asumsi di balik “in­dustrialisme” adalah bahwa perkembangan industri akan menimbulkan kenaikan eko­nomi skala melalui konsentrasi progresif di kota-kot,1 bear. Alasannya adalah bahwa kota besar menarik sumber daya ekonomi dan angkatan kerja untuk membentuk pro­duksi industri dan, pada gilirannya, pening­katan populasi kota dan aktivitas ekonomi akan berfungsi sebagai basis untuk menarik sumber daya baru dan mempromosikan level pertumbuhan dan konsentrasi yang lebih tinggi lagi. Asumsi ini kini merupakan sasaran dari banyak kritik. Dikatakan bah­wa dalam banyak kasus ciri-ciri urbanisme bergantung pada kondisi historis dan fak­tor-faktor yang ada sebelum perkernbangan industri, seperti dalam kasus di kebanyakan kota di benua Eropa, dan bergantung pada elemen yang sebagian besar independen dari konsentrasi industri dan pertumbuhan la­pangan kerja di pabrik—kasus di ibu kota negara. Selanjutnya, adalah jelas bahwa ada sederetan batasan teknis, sosial dan ekonomi untuk ide hubungan progresif an­tara INDUSTRIALIZATION dengan pertumbuhan kota besar. Batas-batas ini, yang bervariasi menurut konteks dan era, adalah waktu dan biaya yang dibutuhkan untuk membangun jaringan transportasi, kesulitan menata kota yang sudah terlanjur padat, kemacetan di perkotaan dan problem lingkungan. Karena semua alasan ini, perkembang­an industri bisa dianggap sebagai sumber terpenting bagi penyebaran urbanisme, tapi dengan syarat dan kondisi tertentu dan juga dipengaruhi oleh faktor lain. Di antara kondisi dan faktor itu adalah kebijakan kesejahteraan, terutama yang berkaitan dengan perumahan dan transportasi, serta pelayanan pada umumnya dalam bidang sosioekonomi; perusahaan kecil dan menen­gah versus perusahaan besar dan kekuatan finansial, diversifikasi perekonomian urban akibat hadirnya industri-industri dengan spesialisasi, dampak dari strategi penghe­matan buruh dan desentralisasi ekonomi; dan faktor kondisi lingkungan, seperti po­lusi, kemacetan lalu-lintas, biaya umum pe­rumahan dan biaya hidup yang tinggi.

Masyarakat informasi. Pengertian urbanism (urbanisme) adalah

Dengan mengadopsi pendekatan yang lebih canggih ketimbang pendekatan “industrial-isme,” akan dimungkinkan untuk menjelas­kan ciri-ciri urbanisme di ahad glohalisasi dan era informasi. Ide kontra-urbanisasi (Perry et al., 1986) diajukan untuk merespons fakta bahwa, sejak perempat terakhir abad 20, populasi di metropolitan telah naik atau tu­run dengan lambat dibandingkan di kota­kota kecil dan menengah dan di pedesaan. Fe­nomena ini diyakini merupakan akibat dari restrukturisasi industri, penurunan sistem industri manufaktur besar dan fase baru ter­tiarisasi, di mana karyawan yang bekerja sen­diri dan perusahaan kecil dengan teknologi terbaru memegang peran yang semakin lebih penting (Castells, 1996). Akan tetapi, penurunan arti penting dan daya tarik area metropolitan besar tak lebih dari penurunan lapangan kerja di pabrik dan desentralisasi beberapa indus­tri ke kota kecil. Sebaliknya, ciri kota-kota global (Sassen, 1991), pusat jaringan un­tuk mengontrol aktivitas ekonomi-finan­sial skala dunia, menjadi pola yang lebih dominan. Pengertian urbanism (urbanisme) adalah Di halik debat tentang kota-kota global, urbanisme dewasa ini merefleksi­kan proses perubahan sosial penting: me­ningkatnya instabilitas lapangan kerja dan kehidupan keluarga, bertambahnya usia harapan hidup dan turunnya angka kela­hiran, pentingnya teknologi informasi, ter­tiarisasi dan stratifikasi sosial yang makin heterogen dan kompleks, dan penyebaran kultur postmodern (Beauregard dan Body­Gendrot, 1999). Kota-kota menjadi sema­kin menonjol dan terfragmentasi dengan segregasi urban, makin banyaknya kam­pung kumuh, dan lebih banyak kecemasan tentang keamanan dan lingkungan. Seperti ditunjukkan oleh Martinotti (1996), ke­hidupan sosial dan politik di metropoli­tan dewasa ini dicirikan oleh konfrontasi antara kepentingan dari empat kelompok yang berbeda: residen (penghuni tetap), satu-satunya kelompok yang dapat memi­lih di pemilu lokal; komuter, yang menjadi amat penting di era Fordis; pengguna kota; dan pengusaha metropolitan, yang berperan penting bagi proses keberhasilan ekonomi di kota-kota dewasa ini. Di abad ke-20, urbanisasi dan gigantisme urban melanda hampir semua negeri terbe­lakang dan berkembang, tempat di mana perkembangan metropolitannya belum dapat dikontrol dengan baik (Abu-Lughod dan Hay, 1977; Gilbert dan Gugler, 1982). Di negeri­negeri ini, selain migrasi massal ke kota yang sulit dihentikan, kompetisi internasional, dan meningkatnya tekanan rasionalisasi agrikul­tural, ada pula efek angka kelahiran yang tinggi di perkotaan.Juga ada efek dari kondisi kebersihan dan kesehatan yang lebih rendah daripada rata-rata di negara maju, namun lebih tinggi ketimhang di pedesaan, dan ini merefleksikan meningkatnya harapan hidup. Urbanisme di negara berkembang di­cirikan oleh dua fenomena utama. Pengertian urbanism (urbanisme) adalah Pertama adalah polarisasi yang jelas dan sulit diken­dalikan antara kelompok berpendapatan menengah ke atas, yang menikmati kondisi hidup dan kekayaan yang mirip dengan strata kaya di negara industri, dengan populasi yang berpendapatan rendah. Yang kedua adalah terdiri dari strategi-strategi bertahan hidup dari kelompok miskin, yang kebanyakan tinggal di kondisi yang me­nyedihkan, di pemukiman liar dan bekerja di sektor informal: campuran antara peker­jaan jasa, kerajinan, asongan di jalanan, kuli bangunan, pekerjaan rumah tangga, dan pekerjaan legal dan ilegal lainnya. Gaya hidup urban mereka juga memunculkan ele­men strategi subsistensi rural di kota-kota besar di Dunia Ketiga, mulai dari perawatan ternak hingga ke makin pentingnya jaring­an kekerabatan, etnis dan komunitas dan solidaritas antara kawan dan tetangga yang amat diperlukan untuk bertahan hidup bagi mereka yang berpendapatan amat rendah.