Nilai tukar.

Pengertian value adalah Di abad ke-18 dan awal abad 19, teori ekonomi membedakan’ antara “ni­lai tukar” dengan “nilai guna,” dan berusaha menggunakan nilai tukar untuk menjelaskan rasio pertukaran, atau harga relatif, di MAR­KET. Komoditas yang memiliki nilai tukar di­kaitkan dengan substansi pencipta-nilainya, dan ini kemudian dinisbahkan ke produk dari tenaga kerja. Komoditas yang memiliki nilai tukar yang berbeda-beda dijelaskan berdasarkan kemudahan atau kesulitan rela­tif dalam produksinya, yang menentukan ber­apa banyak dibutuhkan tenaga kerja. Kare­nanya semua nilai tukar ditentukan secara kuantitatif dan kualitatif oleh tenaga kerja, entah itu dipakai langsung dalam produksi atau secara tak langsung dalam produksi bahan baku dan alat produksi yang dipakai pekerja. Teori nilai kerja ini mencapai pun­caknya dalam karya David Ricardo setelah 1815.

Permintaan dan penawaran. Pengertian value adalah

Akan tetapi, teori ini mengandung kesu­litan logis (yang diakui sendiri oleh Ricardo). Misalkan dua komoditas diproduksi dengan jumlah tenaga kerja yang sama, namun de­ngan struktur temporal yang berbeda. Tetapi dengan adanya struktur temporal yang ber­beda ini kedua komoditas itu pasti mendapat tingkat profit yang berbeda sesuai dengan berapa lama pekerjaan dibutuhkan untuk memproduksinya. Namun kompetisi cende­rung menyamakan tingkat p fit, memaksa penyesuaian harga. Karenanya harga tidak dapat dijelaskan dengan nilai cerja. Setelah Ricardo teori ekonomi terfragmentasi men­jadi teori nilai yang berbeda-beda sesuai de­ngan bagaimana kesulitan ini dikenali dan dipecahkan. Pendekatan yang menjadi domittan adalah pendekatan (yang disebut As­S1CAL ECONOMICS) yang menolak perbedaan antara nilai dan harga. Teori ini menolak tenaga kerja sebagai satu-satu faktor pen jelas. Teori ini memulai dengan kuantitas satu barang yang dipersiapkan oleh individu untuk dikorbankan guna mendapatkan satu unit barang lain. Alih-alih menekankan pada kondisi produksi yang berbeda-beda, teori ini mengasumsikan adanya individual yang melakukan optimalisasi, yang dibatasi oleh sumber daya mereka. Teori ini karenanya adalah teori nilai (harga) subjektivis berba­sis permintaan. Kondisi produksi yang ber­beda-beda tidak diabaikan, namun dianggap direfleksikan oleh penggunaan semua “fak­tor produksi.” Karenanya harga ditentukan oleh permintaan dan penawaran, perminta an akan output dan suplai input berasal dari keputusan agen yang memaksimalkan utili tas yang dibatasi oleh sumber daya mereka, dan suplai output dan permintaan input diambil dari keputusan agen yang menlak simalkan profit yang dibatasi oleh teknologi dan sumber daya. Metodologi ini sebagian besar disusun pada 1870-an. Dalam kerangka ini, john R. Hicks (1939) dan khususnya Paul A. Samuelson (1947) menunjukkan bagaintana cabang teori yang berbeda-beda mentiliki struktur matematis yang sama. Pada 1950- an sejumlah ahli ekonomi-matematis, yang berpuncak pada buku terkenal dari Gerard Debreu (1959), berhasil memformalisasi­kan intuisi ekuilibrium umum dari “tangan gaib” Adam Smith. Pengertian value adalah Harga yang menyama kan permintaan dan penawaran clinamakan harga “ekuilibrium.” Pertanyaannya kemu­dian adalah cara identifikasi situasi di mana harga ekuilibrium eksis di setiap pasar secara simultan, dan apakah ia akan bisa distabil­kan jika ada gangguan. Fokusnya kemudian adalah pada individu yang membuat keputus­an kuantitatif berdasarkan parameter harga, dan interaksi dari keputusan-keputusan itu untuk menentukan harga ekuilibrium. Ma­sih banyak riset dicurahkan untuk meneliti model agregatif dan disagregatif di mana harga bukan dianggap sebagai parameter, di mana agennya punya akses ke banyak infor­masi yang relevan, perdagangan terjadi pada harga yang non-ekuilibrium, serta di mana agen mampu belajar dari kesalahan. Pendekatan yang berbeda diambil oleh Karl Marx pada 1850-an dan 1860-an. Dia mempertahankan perbedaan antara nilai dan harga, akan tetapi merumuskan kembali teori nilai tenaga kerja dengan fokus bukan hanya pada tenaga kerja sebagai sumber nilai tetapi juga pada bentuk eksistensi MONEY yang in­dependen. Relasi antara isi dan bentuk lalu menjadi masalah interpretasi. Misalnya, salah satu interpretasi memandang Marx meng­gunakan pendekatan dialektika, di mana perkembangan konsep dari analisisnya meng­hadirkan kontradiksi, yang merefleksikan kontradiksi dari pembagian kelas. Pengertian value adalah Interpretasi lainnya memandang relasi antara nilai tenaga kerja dengan harga sebagai relasi makroeko­nomi, di mana teori nilai tenaga kerja mem­postulatkan ekuivalensi kuantitatif antara kinerja tenaga kerja total (nilai tenaga kerja ditambahkan) dan produk nasional bersih (nilai uang ditambahkan). Di dalam semua interpretasi ini harga adalah bentuk dari nilai yang diciptakan dalam produksi. Bagaimana teori ini disusun oleh Marx dan penulis beri­kutnya dalam tradisi yang sama masih meru­pakan persoalan kontroversial. Teori-teori nilai itu tidak kompatibel satu sama lain. Teori nilai neoklasik didasar­kan pada individu yang melakukan optimal­isasi, tidak melihat perbedaan antara nilai dan harga, dan terutama fokus pada situasi ekuilibrium. Teori nilai Marxian didasarkan pada kelas, membedakan nilai dari harga dan fokus pada dunia penuh konflik di mana pertentangan kelas terus-menerus diproduksi dan direproduksi. Pada awal abad ke-21 teori nilai neoklasik mendominasi secara ideologis, sedangkan teori nilai Marxian tetap berada di bawah tanah sebagai pendekatan alternatif.