Positivisme logis.

Pengertian Vienna circle (lingkaran Vienna) adalah Kelompok filsuf dan ilmuwan pada 1920-an dan awal 1930-an yang berperan penting dalam pem­bentukan gerakan filsafat yang dikenal seba­gai positivisme logis atau empirisme logis. Ia melanjutkan tradisi pemikiran empiris di Vi­enna yang tokoh utamanya adalah ilmuwan­filsuf Ernst Mach, yang pada 1895 diangkat menjadi ketua jurusan filsafat ilmu induktif di University of Vienna. Dia dikenal gigih dalam memperjuangkan positivisme antimeta­fisika. Pada 1922 Moritz Schlick, juga ilmu­wan-filsuf, diangkat menjadi ketua jurusan itu, dan dari seminar yang diadakan Schlick pada 1923 lahirlah lingkaran Vienna.

Logika matematika modern.

Selain Schlick, anggota terpenting dari lingkaran ini yang memengaruhi perkembang­an filsafat adalah Rudolf Carnap dan eko­nom Otto Neurath. Carnap, seperti Schlick, dididik di dalam filsafat dan fisika tetapi juga akrab dengan perkembangan logika modern. Dia pindah ke Vienna pada 1926 dan menjadi Dozent (dosen) filsafat di universitas tersebut; dia segera menjadi tokoh utama dalam disku­si di lingkaran ini dan menjadi tokoh penting yang mengembangkan ide-ide positivisme logis. Ludwig Wittgenstein, meskipun bukan anggota lingkaran Vienna, amat memenga­ruhi lingkaran itu lewat karyanya, Tractatus Logico-Philosophicus (1921) yang banyak didiskusikan dalam lingkaran tersebut; Witt­genstein bahkan dianggap oleh kelompok positivis Vienna sebagai salah satu dari tiga perintis paling utama dari “konsep dunia miah,” di mana dua yang lainnya adalah Al­bert Einstein dan Bertrand Russell. Pada akhir 1920-an lingkaran Vienna muncul di depan publik sebagai gerakan baru dengan tujuan pendidikan dan ilmiah yang komprehensif. Neurath, seorang sosialis aktif dan ahli organisasi, menegaskan bahwa kelompok ini harus bertindak seperti partai untuk mempromosikan pencerahan melalui konsep dunia ilmiah dan karenanya harus membantu perkembangan masyarakat. Un­tuk tujuan inilah dibentuk Ernst Mach So­ciety. Pada tahun selanjutnya, pada 1929, muncul manifesto Vienna Wissenschaftliche Weltauffassung: Der Wiener Kreis (“The Scientific Conception of the World: the Vi­enna Circle,” Carnap et al., 1929), di mana dinyatakan tujuan utama dari gerakan baru ini adalah mengeliminasi metafisi dari dunia pemikiran rasional dan pembentu­kan sains yang utuh (Einheitswiss nschaft) dengan menggunakan reduksi logika sains dalam memahami pengalaman. Pada tahun yang sama lingkaran, bersama dengan Society for Empirical Philosophy (sebuah kelompok Berlin dengan panclangan serupa yang dipitn­pin Hans Reichenbach), menyelenggarakan kongres di Prague. Kemudian dilakukan kong­res lanjutan, dan dijalinlah kerja sama dengan kelompok dan individu lainnya yang bertu­juan serupa. Jadi karena aktivitas lingkaran Vienna inilah pada 1930-an komunitas inter­nasional filsafat sains terwujud. Pada 1930 jurnal Erkenntnis mulai muncul sebagai or­gan utama gerakan ini. Lingkaran ini juga me­mublikasikan berbagai seri monograf, seperti Schriften zur tvissenschaftlichen Weltauffsung (Writings on the Scientific World-conception) dan Einheitstvissenschaft (Unity of Science). positivis Vienna terhadap meta­fisika yang amat terkenal ini didasarkan pa­da logika matematika modern seperti yang dikembangkan dalam karya Russell dan Principia Mathematica (1910-11) karya A. N. Whitehead, dan pada prinsip verifiabilitas yang menyatakan bahwa makna proposisi faktual terletak dalam metode verifikasi eks­periensialnya, yang mereka ambil dari gagas­an Wittgenstein. Logika modern menurut mereka adalah bagian matematis dari logika, dan proposisi logika mereka interpretasikan, sekali lagi, dengan mengikuti Wittgenstein, sebagai tautologi kosong yang cocok dengan prinsip empiris sentral bahwa semua penge­tahuan yang sesungguhnya (yakni, faktual) berasal dari pengalaman; jadi semua propo­sisi -yang benar adalah pernyataan tautolo­gis atau pernyataan empiris. Di lain pihak, penegasan metafisika seperti “Tuhan itu ada” atau “Ada nilai-nilai absolut” bukan­lah pernyataan tautologis atau empiris tetapi hanya mengklaim memuat informasi faktual yang lepas dari pengalaman, dan pernyataan ini, menurut mereka, adalah pseudo-propo­sisi yang tak bermakna (meskipun mungkin memiliki signifikansi emotif); pernyataan metafisika bahkan lebih tidak masuk aka I sebab boleh jadi pernyataan itu melanggar kaidah logika, seperti yang ditekankan oleh Carnap dalam The Logical Structure of tlye World dan Pseudo-problems in Philosophy (keduanya dalam Carnap, 1928). Akan tetapi, kritik ini tidak terbatas pada metafisika tradisional (termasuk, menurut Selain Schlick, anggota terpenting dari lingkaran ini yang memengaruhi perkembang­an filsafat adalah Rudolf Carnap dan eko­nom Otto Neurath. Carnap, seperti Schlick, dididik di dalam filsafat dan fisika tetapi juga akrab dengan perkembangan logika modern. Dia pindah ke Vienna pada 1926 dan menjadi Dozent (dosen) filsafat di universitas tersebut; dia segera menjadi tokoh utama dalam disku­si di lingkaran ini dan menjadi tokoh penting yang mengembangkan ide-ide positivisme logis. Ludwig Wittgenstein, meskipun bukan anggota lingkaran Vienna, amat memenga­ruhi lingkaran itu lewat karyanya, Tractatus Logico-Philosophicus (1921) yang banyak didiskusikan dalam lingkaran tersebut; Witt­genstein bahkan dianggap oleh kelompok positivis Vienna sebagai salah satu dari tiga perintis paling utama dari “konsep dunia miah,” di mana dua yang lainnya adalah Al­bert Einstein dan Bertrand Russell. Pada akhir 1920-an lingkaran Vienna muncul di depan publik sebagai gerakan baru dengan tujuan pendidikan dan ilmiah yang komprehensif. Neurath, seorang sosialis aktif dan ahli organisasi, menegaskan bahwa kelompok ini harus bertindak seperti partai untuk mempromosikan pencerahan melalui konsep dunia ilmiah dan karenanya harus membantu perkembangan masyarakat. Un­tuk tujuan inilah dibentuk Ernst Mach So­ciety. Pada tahun selanjutnya, pada 1929, muncul manifesto Vienna Wissenschaftliche Weltauffassung: Der Wiener Kreis (“The Scientific Conception of the World: the Vi­enna Circle,” Carnap et al., 1929), di mana dinyatakan tujuan utama dari gerakan baru ini adalah mengeliminasi metafisi dari dunia pemikiran rasional dan pembentu­kan sains yang utuh (Einheitswiss nschaft) dengan menggunakan reduksi logika sains dalam memahami pengalaman. Pada tahun yang sama lingkaran, bersama dengan Society for Empirical Philosophy (sebuah kelompok Berlin dengan panclangan serupa yang dipitn­pin Hans Reichenbach), menyelenggarakan kongres di Prague. Kemudian dilakukan kong­res lanjutan, dan dijalinlah kerja sama dengan kelompok dan individu lainnya yang bertu­juan serupa. Jadi karena aktivitas lingkaran Vienna inilah pada 1930-an komunitas inter­nasional filsafat sains terwujud. Pada 1930 jurnal Erkenntnis mulai muncul sebagai or­gan utama gerakan ini. Lingkaran ini juga me­mublikasikan berbagai seri monograf, seperti Schriften zur tvissenschaftlichen Weltauffsung (Writings on the Scientific World-conception) dan Einheitstvissenschaft (Unity of Science). positivis Vienna terhadap meta­fisika yang amat terkenal ini didasarkan pa­da logika matematika modern seperti yang dikembangkan dalam karya Russell dan Principia Mathematica (1910-11) karya A. N. Whitehead, dan pada prinsip verifiabilitas yang menyatakan bahwa makna proposisi faktual terletak dalam metode verifikasi eks­periensialnya, yang mereka ambil dari gagas­an Wittgenstein. Logika modern menurut mereka adalah bagian matematis dari logika, dan proposisi logika mereka interpretasikan, sekali lagi, dengan mengikuti Wittgenstein, sebagai tautologi kosong yang cocok dengan prinsip empiris sentral bahwa semua penge­tahuan yang sesungguhnya (yakni, faktual) berasal dari pengalaman; jadi semua propo­sisi -yang benar adalah pernyataan tautolo­gis atau pernyataan empiris. Di lain pihak, penegasan metafisika seperti “Tuhan itu ada” atau “Ada nilai-nilai absolut” bukan­lah pernyataan tautologis atau empiris tetapi hanya mengklaim memuat informasi faktual yang lepas dari pengalaman, dan pernyataan ini, menurut mereka, adalah pseudo-propo­sisi yang tak bermakna (meskipun mungkin memiliki signifikansi emotif); pernyataan metafisika bahkan lebih tidak masuk aka I sebab boleh jadi pernyataan itu melanggar kaidah logika, seperti yang ditekankan oleh Carnap dalam The Logical Structure of tlye World dan Pseudo-problems in Philosophy (keduanya dalam Carnap, 1928). Akan tetapi, kritik ini tidak terbatas pada metafisika tradisional (termasuk, menurut pendapat lingkaran ini, apriorisme Kantian) tetapi juga berlaku untuk teori pengetahuan tradisional yang mendiskusikan topik-topik seperti realitas dunia eksternal, yakni persoal­an apakah idealisme subjektif atau realisme adalah benar atau salah. Dalam General Theory of Knowledge (1918), Schlick me­nolak metafisika tradisional, tetapi ia masih berada dalam konteks teori pengetahuan tradisional. Tetapi dalam karya Carnap ta­hun 1928, isu idealisme-realisme dianggap sebagai pseudo-problem dalam filsafat. Pan­dan.gan ini juga diikuti oleh Schlick (1928). Penolakan terhadap metafisika, yang ditegaskan dengan baik oleh Carnap (1932 (1959)), kemudian dilengkapi dan diperkuat dengan menunjukkan kesatuan ilmu penge­tahuan. Neurath, khususnya, yang punya kecenderungan Marxis, menentang keras pembagian ilmu pengetahuan, yang lazim di dunia akademik Jerman, menjadi ilmu penge­tahuan alam dan kultural (Geistes- atau .Kul­turtyissenschaften), sebagai dasar metafisika. The Logical Structure of the World karya Carnap adalah usaha sistematis pertama dalam lingkaran Vienna untuk menjelaskan tesis kesatuan ilmu pengetahuan dengan cara menunjukkan bagaimana semua kon­sep ilmu pengetahuan dapat direduksi ke, atau dikonstruksi dari, arus pengalaman seseorang. Ini kemudian merupakan gam­baran lingkaran Vienna pada akhir 1920-an yang disajikan kepada dunia luar: semua pernyataan empiris, sebagai satu-satunya pernyataan faktual, direkonstruksi sebagai pernyataan yang istilah-istilahnya mengacu kepada pengalaman langsung tanpa mengim­plikasikan klaim metafisika bahwa hanya pengalaman semacam itulah yang riil. Kare­nanya pernyataan itu bisa diverifikasi (atau difalsilfikasi) oleh pernyataan primitif yang mengekspresikan pengalaman langsung, di mana pemyataan itu dipakai sebagai dasar bagi pengetahuan. Tetapi kemudian terjadi perubahan dan perkembangan doktrinal, setelah pandangan yang dijelaskan di atas ternyata menimbul­kan sejumlah problem serius. Pertama-tama, prinsip verifiabilitas bisa jadi menempatkan sains atau ilmu pengetahuan ke dalam level metafisika, sebab hukum alam tidak dapat diverifikasi secara konklusif. Schlick (1931) karenanya mengusulkan untuk memandang­nya bukan sebagai pernyataan tetapi hanya sebagai aturan yang membuat kita bisa me­nyimpulkan pernyataan singular yang dapat diverifikasi. Tetapi usaha untuk menyelamat­kan prinsip verifiabilitas ini tidak berhasil, sebab seperti ditunjukkan Carnap (1932 (1934)), pernyataan singular dari ilmu pe­ngetahuan tidak bisa diverifikasi oleh peng­alaman sebagaimana halnya hukum umum lainnya. Jadi verifiabilitas sebagai kriteria untuk kandungan empiris dari suatu per­nyataan kemudian diganti dengan gagasan konfirmabilitas; bahkan sejak 1932 Carnap berbicara tentang verifikasi dalam penger­tian verifikasi yang lemah, yakni konfirmasi (Carnap 1932 (1987)).

Filsafat ilmu pengetahuan. Pengertian Vienna circle (lingkaran Vienna) adalah

Kesulitan lain adalah pada sifat propo­sisi filsafat ilmu pengetahuan. Wittgenstein dalam Tractatus mengakui bahwa pernyata­annya sendiri tentang struktur dunia dan cara bahasa berhubungan dengan dunia, meski membantu pemahaman kita, tidak benar-benar merupakan proposisi yang ber­makna. Meski Schlick (1930) menerima konklusi Wittgenstein bahwa filsafat tidak menghasilkan kebenaran apa pun tetapi hanya aktivitas yang menjelaskan propo­sisi, namun Neurath (1932a) memprotes bahwa ilmu pengetahuan yang utuh tidak membutuhkan metafisika. Carnap mencoba mengatasi problem ini dengan membuat perbedaan antara mode pembicaraan ma­terial dan formal (sintetis) (Carnap, 1932 (1934)). Dia menjelaskan dalam The Logi­cal Syntax of Language (1934) bahwa filsa­fat adalah penelitian logis terhadap struktur sintaksis dari bahasa. Jadi, mengemukakan klaim ontologis bahwa angka adalah kat­egori fundamental dari entitas, atau bahwa mereka adalah kelas tertentu, sama artinya dengan mengekspresikan, dalam mode ma­terial yang keliru yang mengandung metaf­isika yang tak masuk akal, bahwa apa yang ada dalam mode formal yang benar untuk membuat pernyataan sintaksis adalah ses­uatu yang kini dan bahwa dalam bahasa lain mereka dil~struksi sebagai kelompok kata tertentu. Pengertian Vienna circle (lingkaran Vienna) adalah Perselisihan filosofis ini (perselisihan kategori) karenanya dibatasi pada proposisi bahasa yang berbeda-beda, dan karena tidak ada isu teoretis yang berkaitan dengan cara menangani proposisi itu, maka Carnap me­nyarankan prinsip toleransi dalam penger­tian konvensional. Lebih jauh, Neurath sejak awal bersikap kritis terhadap konsep ilmu pengetahuan se­bagai pengalaman privat. Dia dengan tegas berpendapat bahwa satu-satunya bentuk bahasa yang sesuai dengan intersubjektivitas ilmu pengetahuan adalah bahasa fisikalistik intersubjektif: karenanya, fisikalisme (physi­calism) merupakan kerangka yang pas untuk ilmu pengetahuan yang utuh yang akan men­cakup ilmu sosial dalam bentuk “behaviour­isme sosial.” Neurath menambahkan bahwa pemverifikasi (atau pengonfirmasi) ilmu pe­ngetahuan, yang disebutnya pernyataan pro­tokol, juga harus menjadi bagian dari bahasa fisikalistik agar mereka punya signifikansi bagi ilmu pengetahuan intersubjektif. Dia juga menyangkal bahwa pernyataan protokol itu adalah tak hisa diperbaiki, dan berdasar­kan ide landasan absolut ilmu pengetahuan dia menolak gagasan untuk membandingkan pemyataan dengan realitas, yang dipandang­nya tidak akan bermakna. Fisikalisme radikal ini (seperti dikemukakan dalam Neurath, 1932a dan 1932b) sangat mengesankan ba­gi Carnap, yang menerima, dengan sedikit modifikasi, tesis prinsipnya dan mengabaikan pandangan pernyataan protokol sebagai per­nyataan pengalaman-langsung yang tak bisa diubah. Tentu saja, penerimaan atas fisika­lisme ini baginya bukan soal asersi tetapi ha­nya preferensi pada bentuk bahasa tertentu, dan dengan nada yang sama dia berpendapat bahwa persoalan bentuk pernyataan protokol bisa diselesaikan dengan konvensi Carnap, 1932 (1987)). Lebih jauh, Neurath sejak awal bersikap kritis terhadap konsep ilmu pengetahuan se­bagai pengalaman privat. Dia dengan tegas berpendapat bahwa satu-satunya bentuk bahasa yang sesuai dengan intersubjektivitas ilmu pengetahuan adalah bahasa fisikalistik intersubjektif: karenanya, fisikalisme (physi­calism) merupakan kerangka yang pas untuk ilmu pengetahuan yang utuh yang akan men­cakup ilmu sosial dalam bentuk “behaviour­isme sosial.” Neurath menambahkan bahwa pemverifikasi (atau pengonfirmasi) ilmu pe­ngetahuan, yang disebutnya pernyataan pro­tokol, juga harus menjadi bagian dari bahasa fisikalistik agar mereka punya signifikansi bagi ilmu pengetahuan intersubjektif. Dia juga menyangkal bahwa pernyataan protokol itu adalah tak hisa diperbaiki, dan berdasar­kan ide landasan absolut ilmu pengetahuan dia menolak gagasan untuk membandingkan pemyataan dengan realitas, yang dipandang­nya tidak akan bermakna. Pengertian Vienna circle (lingkaran Vienna) adalah Fisikalisme radikal ini (seperti dikemukakan dalam Neurath, 1932a dan 1932b) sangat mengesankan ba­gi Carnap, yang menerima, dengan sedikit modifikasi, tesis prinsipnya dan mengabaikan pandangan pernyataan protokol sebagai per­nyataan pengalaman-langsung yang tak bisa diubah. Tentu saja, penerimaan atas fisika­lisme ini baginya bukan soal asersi tetapi ha­nya preferensi pada bentuk bahasa tertentu, dan dengan nada yang sama dia berpendapat bahwa persoalan bentuk pernyataan protokol bisa diselesaikan dengan konvensi Carnap, 1932 (1987)). nya dengan pernyataan tampaknya mengaktifkan kembali teori koherensi ke­benaran yang diyakininya akan memaksa kita menganggap kisah yang tidak nyata se­bagai sebuah kebenaran. Schlick bersikeras mempertahankan hubungan antara bahasa dengan realitas, yang dianggapnya disediakan secara simultan oleh laporan dari pengalaman langsung: dalam pernyataan observasi atau “afirmasi” (Konstatierungen) inilah bahasa dan realitas bertemu. Karena sifatnya yang langsung, afirmasi tidak dapat diragukan, tetapi karena alasan yang sama afirmasi, se­perti pernyataan protokol, bukan basis bagi hipotesis ilmiah, Jadi mereka tidak muncul di awal pengetahuan, seperti dikemukakan Schlick, namun di ujung akhir pengetahuan karena mereka melengkapi tindakan konfir­masi kita dan karenanya mencegah penge­tahuan kita jatuh ke dalam koherenisme (Schlick, 1934). Jadi di dalam lingkaran Vienna (yang tak pemah semonolitik seperti yang dike­mukakan, misalnya, oleh manifesto 1929) terdapat perbedaan besar: absolutisme “konservatif” yang dibela Schlick berhadap­an dengan pemikiran “radikal” dari Car­nap-Neurath. Reaksi Schlick terhadap pe­mikiran radikal menimbulkan serangkaian artikel di Erkenntnis dan di jurnal Analysis di Inggris. Tetapi saat debat tentang dasar pengetahuan ini masih berlangsung, ling­karan Vienna sudah terpecah. Pada 1931 Herbert Feigl, murid dari Schlick dan ang­gota lingkaran sejak awal berdirinya, pergi ke AS di mana dia menjadi wakil utama em­pirisme logis. Pada 1934 matematikawan Hans Han, yang juga termasuk pendiri, me­ninggal. Carnap, yang pada 1931 pindah ke Prague, pada 1935 pindah ke AS. Lebih jauh, iklim politik mulai memusuhi aspirasi lingkaran Vienna. Pada 1934 rezim yang disebut clerico-fasis di Austria, dalam rang­ka menekan Social Democratic Party, mem­bubarkan Ernst Mach Society, dan Neurath beremigrasi ke Belanda. Pengertian Vienna circle (lingkaran Vienna) adalah Pada 1936 Schlick dibunuh oleh seorang mahasiswa yang gila. Terakhir, pendudukan Nazi atas Austria pada 1938 memaksa mayoritas anggota yang tersisa untuk mengungsi; Neurath meng­ungsi ke Inggris pada 1940. Lingkaran Vienna telah mati, namun warisan filosofisnya dan bekas anggotanya, yang membawa karya mereka di dunia Ang­lo-Saxon, masih memengaruhi perkembang­an Empirisme Logis dan filsafat ilmu penge­tahuan pada umumnya.