Tindak kekerasan.

Pengertian violence (kekerasan) adalah Tidak ada definisi yang disepakati atau non kontroversial menge­nai istilah kekerasan ini. Terlalu sulit un­tuk mendapatkan kesepakatan definisinya. Meski demikian, pemahaman umum atas is­tilah ini adalah bahwa kekerasan mencakup setiap serangan fisik terhadap manusia yang dilakukan dengan niat membahayakan, me­nyakiti atau membuat penderitaan. Serangan serupa terhadap makhluk hidup lainnya juga sering dianggap sebagai tindak kekerasan. Dan juga lazim untuk berbicara tentang ke­kerasan terhadap kategori tertentu, yakni properti privat.

Persoalan legitimasi. Pengertian violence (kekerasan) adalah

Konsep umum ini bukannya tanpa prob­lem. Misalnya, persoalan niat. Penekanan pada niat adalah penting, sebab pembeda­han dan pengeboran gigi juga dapat menim­bulkan rasa sakit, dan mungkin bisa meng­hilangkan sebagian anggota tubuh; tetapi satu-satunya tujuan dari tindakan ini adalah demi kesehatan pasien. Penyiksaan, di lain pihak, adalah bentuk kekerasan, sebab pend­eritaan yang sengaja dikenakan adalah demi kepentingan di luar kepentingan si korban. Namun akan keliru jika menetapkan bahwa niat adalah aspek krusiaI dari definisi ini; pengemudi mobil jarang yang berniat mem­bunuh atau mencelakai orang lain, namun kecelakaan lalu lintas bisa dideskripsikan sebagai tindakan, atau setidaknya insiden, kekerasan, khususnya jika kecelakaan ini disebabkan oleh kecerobohan atau kelalai­an. Mereka yang bertanggung jawab atas penjatuhan bom dapat mengklairn bahwa niat mereka, atau tujuan mereka, adalah hanya menghancurkan properti, biasanya target militer atau yang berhubungan de­ngannya. Namun karena biasanya orang juga tewas atau terluka oleh serangan bom itu maka adalah mustahil untuk mengatakan bahwa penjatuhan bom ini bukan tindakan kekerasan terhadap manusia hanya karena tujuan utamanya adalah untuk menyerang benda. Jika penderitaan manusia menjadi tak terhindarkan akibat dari serangan, maka mereka yang bertanggung jawab atas seran­gan itu dapat dianggap melakukan tindakan kekerasan. Kedua, beberapa komentator sepakat bahwa definisi atau deskripsi di atas tidak memaciai, sebab hanya serangan ilega I atau asal-asalan terhadap orang yang seharusnya dideskripsikan sebagai tindakan keke­rasan. Serangan semacam itu, ketika di­lakukan oleh, misalnya, polisi dalam tugas normal yang diperlukan, atau pada masa perang, lebih tepat dideskripsikan sebagai tindakan kekuatan, bukan kekerasan. Jadi kamus Oxford English mendefinisikan ke­kerasan sebagai “penggunaan kekuatan se­cara melanggar hukum.” Tetapi persoalan legitimasi, moral atau 1ega1, dari suatu tindakan adalah sesuatu yang berbeda dari sifat serangan itu send­iri. Kekerasan yang dibenarkan:—dan se­tiap orang kecuali kelompok perdamaian menerimanya sebagai yang terbaik di an­tara yang buruk—masih tetap merupakan kekerasan. Tidak ada kesepakatan menge­nai negara atau organisasi apa yang memi­liki legitimasi untuk mengubah kekerasan menjadi kekuatan paksa. Mungkin hanya dalam kasus properti sajaIah elemen legitimasi atau legalitas diper­lukan dalam definisi kekerasan. Jika saya bermaksud menghancurkan rumah saya sen­diri, maka itu bukanlah tindakan kekerasan. Tetapi jika orang lain menghancurkan rumah saya, sementara saya tidak mengizinkannya dan melarangnya, maka tindakan itu bisa dikatakan sebagai kekerasan terhadap pro­perti. Di lain pihak, jika, karena jengkel, sata merobek lukisan berharga milik saya, orang lain akan mendeskripsikannya sebagai tindak kekerasan, walaupun saya punya hak legal untuk menghancurkan properti saya sendiri. Pengertian violence (kekerasan) adalah ProbIem ketiga berkenaan dengan ga­gasan “serangan fisik.” Telah diketahui luas bahwa beberapa bentuk penyiksaan modern yang canggih, yang menghasilkan disorientasi indera dan dapat menimbulkan kerusakan jangka panjang terhadap pikiran dan otak, tidak menggunakan serangan fisik langsung terhadap si korban. Pemboman dari udara merupakan serangan angsung. Tetapi agak aneh jika mendeskrips kan tin­dakan menekan tombol yang men ebabkan bom atau rudal meluncur sebagai sebuah tindakan kekerasan. Tetapi apa-apa yang diperlihatkan oleh kesulitan ini adalah sejauh mana kekerasan modern dimekanisasik n dan diindustrial­isasikan, sedangkan cara kitA membayang­kan kekerasan atau mennkirkan kekerasan didasarkan pada term konfrontasi langsung antar-individu atau kelompok kecil. Kon­frontasi semacam itu, tentu saja, terjadi, namun konfrontasi itu hanya sebagian kecil saja tindakan yang menyebabkan kematian dan luka yang diakibatkan oleh serangan terhadap manusia—mayoritas tindakan itu justru dilakukan oleh negara ketimbang oleh individu atau organisasi ilegal. Konsekuensinya, pencarian akar kekeras­an dalam psikologi individual sebagian be­sar keliru, kecuali mungkin daIam kasus pembunuh yang bertindak atas kemauan­nya sendiri. Jarak fisik antara mereka yang menyebabkan kematian, sakit atau penderi­taan dengan mereka yang menjadi korban, menunjukkan bahwa apa yang dibutuhkan untuk menjalankan pembunuhan atau keke­jaman skala besar bukanlah kader-kader yang sadis dan kuat, tetapi orang yang ter­latih untuk mematuhi otoritas yang mapan, yang tidak menganggap dirinya bertanggung jawab atas tindakannya sendiri. Perasaan tak bersalah ini adalah mentalitas yang dapat meluas hingga ke pucuk pimpinan. or­ganisasi, seperti daIam kasus yang terungkap dalam pengadilan Eichmann. Jika kekerasan tidak selalu mengguna­kan serangan fisik langsung oleh beberapa orang terhadap orang lain, maka perbedaan antara kekerasan dengan cara-cara koersif lain yang menyebabkan kematian, luka atau penderitaan menjadi kabur. Sebuah kebijakan yang dimaksudkan untuk menye­babkan kematian orang atau menimbulkan penyakit bisa disebut kebijakan kekerasan. Inilah salah satu alasan mengapa slogan seperti “kemiskinan aclaIah kekerasan” atau “eksploitas adalah kekerasan” bukan­lah hiperbola. Pengertian violence (kekerasan) adalah Slogan-slogan itu mengang­kat persoalan apakah kita dapat membeda­kan antara cara menciptakan penderitaan dan luka yang secara konvensional disebut kekerasan dengan yang tidak. Ini juga menimbulkan pertanyaan ten­tang evaluasi kekerasan. Biasanya kekerasan dianggap sebagai salah satu tindakan ke­jahatan, atau bahkan yang paling jahat. Sebab, berdasarkan definisinya, kekerasan menimbulkan bahaya atau penderitaan, dan karenanya ia pasti jahat. Tetapi pen­deritaan atau bahaya yang sarna dapat se­cara sengaja diciptakan dengan cara lain, yang biasanya dianggap bukan kekerasan, lalu mengapa kekerasan dianggap lebih buruk ketimbang kejahatan lainnya?