Masyara­kat kapitalis modern.

Pengertian wealth (kekayaan) adalah Dalam pemikiran sosial modern, konsep kekayaan dalam ekono­mi—setiap PROPERTY yang punya nilai jual atau dapat diperdagangkan—biasanya di­anggap sebagai dimensi fundamental dan penting dari ketimpangan sosial atau eko­nomi, dan sering didiskusikan atau dipakai oleh pengkritik kapitalisme dari aliran kiri. Menurut Marxis, konsentrasi pemegangan kekayaan di tangan pihak privat (swasta) adalah bagian dari proses kontrol kelas borjuis atas alat-alat produksi, distribusi dan pertukaran, dan Marxis umumnya memandang persoalan pemegang-kekaya­an dalam konteks kepemilikan kelas atas kapital produksi. Kaum radikal non-Marx­is, seperti R. H. Tawney (1880-1962) dan Anthony Crosland (1918-77) menekankan pada peran penguasaan atas kekayaan, khususnya konsentrasi kekayaan yang di­wariskan, dalam mempertahankan ketim­pangan politik dan sosial dalam masyara­kat kapitalis modern. Pemikiran ketiga yang diwakili oleh ilmuwan sosial seperti Thorstein Veblen (1857-1929), Joseph Schumpeter (1882-1950) dan C. Wright Mills (1916-62) telah mengkaji kategori sosial dari orang kaya, khususnya mereka yang punya warisan kekayaan besar. Ve­blen adalah orang pertama yang menggar­isbawahi “konsumsi mencolok” yang vul­gar di kalangan orang kaya; Schumpeter mengkaji efek buruk dari warisan kekaya­an terhadap kemampuan entrepreneurship di kalangan mereka; dan Mills merumuskan konsep “elit-kekuasaan” untuk memasuk­kan overlap dalam personel antara bisnis be­sar, pemerintah, militer, dan elemen lainnya yang ditemukannya di Amerika pasca-1945.

Level kekayaan. Pengertian wealth (kekayaan) adalah

Para ekonom dan pakar lainnya yang bekerja dalam kerangka neoklasik atau Key­nesian mengkaji persoalan konsentrasi dan distribusi pendapatan dan kekayaan dari aspek yang relevan dengan teori sosial. Pada 1950-an Simon Kuznets mengemukakan teori—yang tampaknya diverifikasi oleh periset selanjutnya seperti Lee Soltow, Jef­frey Williamson dan Peter Lindert—bahwa konsentrasi pendapatan (dan kekayaan) di tangan privat menjadi makin tidak imbang selama dan sesudah periode industrialisasi, dan kemudian semakin diseimbangkan (ini berbeda dengan teori Marxis). Di Inggris, riset empiris menunjukkan bahwa maldis­tribusi pendapatan rnencapai puncaknya pada periode antara 1870 dan 1914, dan pendapatan menjadi semakin kurang tim­pang sejak Perang Dunia I. Tingkat konsen­trasi penguasaan kekayaan (seperti diukur oleh catatan resmi) menjadi makin merata setelah satu generasi. Namun belum jelas apakah ini terjadi karena kemajuan eko­nomi “alamiah”—penciptaan masyarakat konsumen massa yang makmur—atau ka­rena pajak redistribusionis dan aktivitas serikat pekerja. Sejarawan sosial juga makin banyak yang mengkaji kekayaan sebagai kategori sosial dan evolusi pemilik kekayaan di masyarakat modern, terutama didasarkan pada catatan kekayaan dan catatan pajak yang memung­kinkan mereka mempelajari identitas dan level kekayaan orang yang sudah mening­gal. Debat tentang “kebangkitan gentri” di Inggris modern awal yang dilakukan oleh R. H. Tawney, Lawrence Stone, J. H. Hexter, Hugh Trevor-Roper dan yang lainnya meng­gunakan dasar kajian kekayaan ekonomi dari kelompok aristokrat dan gentri di Ing­gris sejak 1500 sampai 1700. Pengertian wealth (kekayaan) adalah Pembahasan komprehensif atas catatan kekayaan orang kaya di Inggris sejak 1800, yang dilaku­kan oleh/W. D. Rubinstein, menunjukkan hahwa kekayaan kebanyakan diperoleh dari bidang kcuangan dan perdagangan, khususnya di City of London, ketimbang dari pabrik di jantung industri Inggris; ini memicu perdebatan tentang implikasi dari “kapitalisme yang terbagi” berdasarkan letak geografi di Inggris. Muncul pula studi lainnya tentang kelas menengah di Inggris menggunakan sumber yang sama, oleh Leo­nore Davidoff, Catherine Hall dan Robert Morris, dan juga muncul banyak literatur tentang kekayaan di AS, Perancis, Jerman, dan di tempat lain.