Asosiasi dan organisasional.

Pengertian women’s movement (gerakan perempuan) adalah Deskripsi istilah ini berarti kolektivitas perem­puan yang memobilisasi diri untuk memprotes atau mengejar tujuan bersama, dan deskripsi ini sering dipakai juga untuk gerakan feminis. Tetapi gerakan perempuan sudah ada lebih dahulu dan mungkin berbeda dengan FEMI­NISM. Gerakan perempuan adalah gerakan sosial yang menunjukkan keragaman tujuan, bentuk asosiasi dan organisasional (lihat juga SOCIAL MOVEMENT).

Revolusi Pe­rancis.

Gerakan perempuan telah muncul di semua belahan dunia dan telah dicatat dalam sejarah. Al-Qur’an mengacu pada pembe­rontakan wanita di Arab Saudi yang, menu­rut para sarjana, memprotes pelarangan un­tuk berdagang. Sejarah Amerika Latin dan, Afrika memuat kasus-kasus budak-budak perempuan yang memberontak dan petani wanita yang melawan hukum atau praktik negara imperial, atau memobilisasi diri un­tuk mempertahankan kepentingan ekonomi perempuan. Di Eropa abad ke-18, wanita membentuk asosiasi sendiri, beberapa di antaranya berpartisipasi dalam revolusi Pe­rancis. Dalam pergolakan revolusi 1840-an gerakan perempuan berkembang dan koran hak perempuan, Les Voix des Femmes (Sua­ra Perempuan) didirikan. Meskipun gerakan awal ini hanya sedikit jumlahnya, dan cend­erung sporadis dan terisolasi, namun di abad ke-19 dan 20 gerakan ini banyak muncul setelah masyarakat sipil berkembang dan setelah berkurangnya pembatasan perem­puan untuk masuk ke kehidupan sosial dan politik. Pada abad ke-19 perempuan di banyak kawasan dunia mulai berorganisasi mela­wan ketimpangan gender dan menuntut re­formasi legal untuk menghilangkan kontrol patriarkis atas wanita dalam keluarga dan masyarakat secara keseluruhan. Beberapa dari inisiatif ini dilakukan oleh kelompok atau individu yang independen, beberapa dari mereka bekerja sama dengan gerakan yang lebih besar yang ingin menciptakan pe­rubahan sosial, dan beberapa di antaranya ada yang bekerja sama dengan partai politik. Ide-ide eman,pasi wanita menarik bagi mereka yang diilhami oleh Pencerahan. Gerak­an nasionalis liberal, sosialis dan gerakan modernisasi merupakan kekuatan-kekuat­an penting yang mendukung perubahan hukum dan sosial bagi kepentingan wanita dan mereka banyak mengambil kaum perem­puan sebagai anggotanya. Meski kadang ada perbedaan ideologis, namun mereka semua sama-sama berkomitmen untuk membangun masyarakat modern di mana struktur ma­syarakat patriarkis tradisional dan bentuk negara yang dianggap menindas perempuan mesti diganti dengan bentuk administrasi sipil yang lebih egalitarian, rasional dan adil. Meskipun ide-ide dan tulisan feminis dapat ditemukan di beberapa abad yang lalu, namun di abad sembilan belaslah femi­nisme muncul sebagai kekuatan politik dan ideologi yang berpengaruh. Istilah femi­nisme pertama kali dipakai oleh pejuang hak perempuan bukan hanya di AS dan Eropa, tetapi juga di Jepang, Turki, Rusia, Argentina, Filipina dan India. Meski be­ragam dalam tujuan dan strateginya, dan karenanya terbuka bagi variasi interpretasi, feminisme di kawasan dan konteks kultural yang berbeda-beda sama-sama berkomit­men untuk mengakhiri kesenjangan seksual dan membebaskan wanita dari penindasan. Gerakan feminis awal, seperti Philippine Feminist Association yang didirikan pada 1905 atau Seito (B1ue Stocking) yang didiri­kan di Jepang pada 1911, mengampanyekan hak untuk memilih dan akses ke pendidik­an, menentang diskriminasi berdasarkan jenis kelamin dan berusaha memperbaiki situasi hukum bagi perempuan. Asosiasi­asosiasi wanita ini mengejar tujuannya dari sudut pandang yang berbeda. Beberapa di antaranya, seperti Persian Women’s Society pada 1911, menghadapi hukum agama yang mengekang; yang lainnya yang bekerja di dalam konteks negara liberal menuntut hak­hak kewarganegaraan, khususnya kesamaan dihadapan hukum dan pemerataan hak su­ara; dan gerakan lainnya menghubungkan perjuangan menuntut persamaan hak dengan revolusi sosialis. Di kawasan berkembang seperti Turki, India, Cina dan Mesir, asosiasi feminis mewakili kepentingan wanita dalam proyek modernisasi bangsa, sedangkan yang lainnya tetap independen dari partai politik, lebih berkomitmen pada interpretasi radikal atas pembebasan perempuan, bukan seka­dar memperjuangkan persamaan hak tetapi juga membahas isu-isu seksualitas dan relasi interpersonal.

Sejarah feminisme. Pengertian women’s movement (gerakan perempuan) adalah

Sejarah feminisme terbagi menjadi dua periode umum. “Gelombang pertama” ada­lah periode antara 1860 dan 1920. Ia merep­resentasikan gerakan persamaan hak dan gerakan reformasi, dan yang paling sukses dan besar adalah di AS dan Inggris. Kon­vensi hak wanita pertama di Amerika Utara diadakan pada 19-20 Juli 1848 di Seneca Falls dan terkadang dianggap sebagai mo­men pendirian feminisme Barat. Di Inggris, feminisme gelombang pertama melakukan mobilisasi yang signifikan pada awal abad 20 untuk memperjuangkan hak pilih wanita, yang tercapai pada 1918. Periode kedua dari kekuatan terbesar organisasi feminisme dimulai pada akhir 1960-an. Ia tumbuh di tengah suasana ra­dikalisme mahasiswa d.i Eropa, dan di AS merupakan bagian dari gerakan hak-hak sipil. Feminisme gelombang kedua didasar­kan pada pandangan teoretisi sebelumnya seperti Simone de Beauvoir dan memuncul­kan pendekatan teoretis, strategi dan tujuan yang lebih beragam ketimbang gelombang pertama. Gerakan feminis pada periode ini terbagi menjadi dua aliran utama: yang satu disebut gerakan reformasi, terutama berusaha mendapatkan persamaan hak dan menghilangkan diskriminasi terhadap perempuan; dan yang kedua, yang cende­rung mengarah pada pembebasan perem­puan, terutama ingin mewujudkan pro­gram perubahan sosial yang lebih radikal, dan memuat pemikiran reformis sekaligus revolusioner. Tipe pertama, yang dominan di AS, diasosiasikan dengan integrasi dan memengaruhi sistem politik dan pencapai­an reformasi legal substansial, sedangkan yang kedua, yang lebih banyak di Eropa, pada awalnya adalah gerakan reformis yang lebih kritis, dan mendukting inisiatif sendiri dalam bentuk asosiasi elit dan terde­sentralisasi. Tetapi kedua variasi itu memi­liki perspektif yang sama tentang isu dan tujuan tertentu, dan dalam kedua kasus itu kampanye kebebasan aborsi menjadi sama pentingnya dengan isu hak pilih yang diper­juangkan gelombang pertama. Feminisme gelombang kedua adalah salah satu gerakan sosial terpenting di peri­ode pasca perang dan mampu memobilisasi sejumlah besar perempuan. Pada 1985, National Organization of Women (NOW) yang reformis di AS memiliki anggota se­perempat juta orang, sedangkan di Inggris, Italia dan Prancis, demonstrasi perempuan yang memperjuangkan isu-isu spesifik dapat mencapai tiga perempat juta wanita. Di luar dunia Anglo-Saxon, feminis juga mulai meng­organisasikan diri sejak awal 1970-an; ke­lompok feminis bermunculan di Yugoslavia, Meksiko, Peru, India dan bahkan di USSR. Beberapa inisiatif ini berkembang menjadi gerakan sosial signifikan pada 1980-an. Dengan diluncurkannya Decade for Wo­men di Mexico pada 1975, gerakan perem­puan menjadi lebih internasional dan menem­pati arena kebijakan global di berbagai forum dan konferensi PBB. Konferensi internasional keempat tentang perempuan yang disponsori PBB diselenggarakan di Beijing dan diikuti 3000 wanita, banyak di antaranya yang ak­tif dalam organisasi nonpemerintah (LSM) di kawasan Selatan. Jaringan antar-negara dan lobi-lobi efektif oleh gerakan perempuan ber­hasil membantu mempromosikan reformasi hukum dan partisipasi politik yang lebih luas untuk wanita, dan membantu mensukseskan kampanye internasional yang difokuskan pa­da isu kekerasan terhadap perempuan. Setelah gelombang kedua feminisme ini gerakan wanita mulai mendapat perhatian akademik. Analis fenomena politik seperti gerakan sosial urban, revolusi, dan pem­berontakan rakyat cenderung fokus pada dinamika kelas dan kebanyakan mengabai­kan konflik gender dan etnis. Akibatnya mereka jarang mengakui kehadiran wanita dalam gerakan ini atau menganggap gerak­an wanita tidak penting. Sejarawan feminis dan ilmuwan sosial kemudian berusaha memperbaiki kekurangperhatian terhadap perempuan ini untuk mengungkap apa yang disebut Sheila Rowbotham sebagai sesuatu yang “tersembunyi dalam sejarah.” Text Box: MilMeningkatnya perhatian terhadap gerak­an perempuan menimbulkan berbagai studi tipe-tipe tindakan kolektif perempuan yang bermunculan dan studi ini mengungkapkan luasnya aktivitas politik yang dilakukan wanita. Aktivitas itu berkisar mulai dari gerakan protes spontan, hingga ke kampa­nye persamaan hak politik oleh feminis, dan pada 1980-an muncul mobilisasi perempuan fundamentalis atau konservatif di AS dan dunia Islam. Variasi mobilisasi ini menun­jukkan bahwa perempuan bukan hanya merupakan aktor politik penting, tetapi juga bisa melakukan mobilisasi untuk mengejar berbagai macam tujuan: terkadang prioritas­nya adalah meraih kesetaraan seksual; ter­kadang mendukung tujuan politik tertentu; dan terkadang juga mendukung perubahan hukum yang, dengan alasan religius, memer­lukan redefinisi dan, terkadang, dalam kasus gerakan antiaborsi, restriksi atas hak-hak sebelumnya. Penemuan ini menimbulkan penilaian kembali atas partisipasi politik wanita dan membantu melemahkan pandangan bahwa perempuan bukan aktor politik yang hanya berpengaruh di dalam bidang pribadi “ala­miah.” Para sarjana feminis mengakui ter­jadinya maskulinisasi ruang politik dan pe­nyingkiran wanita dari ruang politik, namun mereka juga menunjukkan bahwa feminisme telah mengembangkan makna politik sendiri dengan memasukkan perlawanan terhadap relasi kekuasaan di dalam dunia privat dan masyarakat pada umumnya. Secara umum, analisis gerakan wanita telah mendorong be­berapa penulis menyatakan bahwa gerakan wanita merupakan tantangan informal ter­hadap politik arus utama. Seperti “gerakan sosial baru” lainnya, tantangan yang diaju­kan gerakan wanita juga diarahkan ke kon­sep ortodoks mengenai isi dan domain poli­tik yang tepiat, yang diringkas dalam slogan feminis personal adalah politik.” Variasi dan karakter gerakan perem­puan menimbulkan sejumlah isu analitik yang belum terpecahkan. Yang pertama berkaitan dengan kebutuhan untuk mem­bedakan antara berbagai tingkatan tindak­an (kolektif) sosial yang menyebabkan gerakan itu lebih mengutamakan aspek kualitatif dan kuantitatif di atas bentuk solidaritas atau asosiasi yang mungkin ke­cil skalanya, tersebar dan relatif tidak kuat. Bentuk ini mungkin muncul berdasarkan kesadaran akan adanya “kultur perem­puan” yang mencakup jaringan, klub dan lingkaran sastra. Ini mungkin menandai awal gerakan atau bagian dari gerakan, namun hal ini berbeda dalam hal kekuatan organisasional dan dampak sosialnya. Isu kedua adalah apakah feminisme dapat atau seharusnya mengejar tujuan yang bisa diaplikasikan secara universal. Virginia Woolf menulis: “Sebagai perempuan saya tak punya negeri. Sebagai perempuan saya tak butuh negara.” Slogan Robin Morgan pada 1970-an, “Sisterhood is Global,” dikritik oleh feminis kulit hitam dan Dunia Ketiga karena slogan ini mengasumsikan bahwa perempuan semua kelas dan semua kawasan selalu punya kepentingan yang sama dan memiliki ikatan solidaritas yang sama. Mereka ini mendu­kung pandangan bahwa kepentingan wanita adalah beragam dan dipengaruhi oleh faktor­faktor seperti kelas dan etnis, yang bisa me­nimbulkan hubungan dominasi dan subor­dinasi antar wanita. Maka tujuan feminisme adalah bervariasi, dan karenanya gerakan perempuan juga berbeda-beda. Pandangan ini tidak menolak bahwa beberapa basis tin­dakan kolektif dan tujuan bersama bisa dica­pai, tetapi pandangan ini menyatakan bahwa solidaritas antar perempuan bukan didasar­kan pada fakta gender saja. Walaupun keragaman perjuangan fe­minis di suatu negara atau kawasan me­nyeba bkan generalisasi akan menyesatkan, perbedaan tertentu telah mem bedakan Barat dari variasi feminisme lain, termasuk komitmennya yang kuat pada realisasi diri, di mana isu seksualitas, bahasa dan kultur memiliki dasar yang kuat. Sebaliknya, banyak feminis dari kawasan post-kolo­nial merumuskan tujuannya dalam keselu­ruhan strategi yang memprioritaskan pada kemiskinan, kemerdekaan dan perubahan ekonomi dan sosial. Isu ketiga berkaitan dengan tujuan gerak­an perempuan yang berbeda dengan tujuan gerakan feminis. Secara historis dan lintas­kultural, bentuk gerakan perempuan muncul berdasarkan peran wanita dalam keluarga. Gerakan ini biasanya mernperjuangkan pe­nyediaan kebutuhan pokok atau hak asasi manusia dan hak CrrizENsHiP. Gerakan ini memiliki dua karakteristik. Mereka diiden­tifikasi dengan konstruksi feminitas sosial tertentu dan peran ibu dan dikaitkan dengan identitas ini dengan cara yang signifikan. Pengertian women’s movement (gerakan perempuan) adalah Perempuan yang berpartisipasi dalam ger­akan ini memandang keterlibatan politik mereka sebagai perluasan dari peran mere­ka dalam keluarga dan didasarkan pada perasaan femini intrinsik dan primordial. Kedua, sebagai fungsi dari ini semua, partisi­pan dalam bentuk perjuangan ini cenderung merumuskan tujuan tindakan mereka dalam term altruistik ketimbang untuk memajukan kepentingan wanita. Dalam kebanyakan ka­sus, kepentingan mereka terkait erat dengan urusan rumah tangga, kesejahteraan anggota keluarga dan kondisi eksistensinya dalam ko­munitas. Contoh gerakan “berbasis-peran” ini adalah mobilisasi wanita di kota Amerika Latin yang menuntut kebutuhan dasar dan gerakan “ibu-ibu” yang muncul di kawasan di mana peran ibu (motherhood) memiliki status khusus berdasarkan agama dan kul­tur. Gerakan “ibu-ibu” seperti Madres de la Plaza de Mayo di Argentina, atau gerakan perdamaian seperti “Women in Black” yang muncul di sejumlah negara termasuk Is­rael, pada dasarnya adalah gerakan protes menentang kekerasan negara dan anggota gerakan ini cenderung berasal dari kelu­arga wanita (biasanya ibu dan nenek) dari korban represi atau perang. Gerakan protes ini biasanya muncul dalam konteks di mana represi negara atau kekerasan negara telah menghancurkan bentuk organisasi oposisi lainnya. Bentuk mobilisasi perempuan ini, yang sebelumnya dipandang sebagai antitesis fe­minisme, mendapat penilaian ulang di era 1980-an. Pluralisasi pandangan tentang ba­gaimana mengkarakteristikkan kepentingan wanita ini diiringi dengan pertanyaan tentang model pembebasan perempuan yang dimak­sudkan untuk menghilangkan perbedaan antara peran sosial wanita dan pria. Alih­alih wanita menyesuaikan diri dengan peran lelaki, beberapa feminis lebih memilih untuk menilai ulang dan mengevaluasi kembali feminitas dan peran tradisional perempuan di dalam keluarga. Salah satu konsekuensinya adalah penguatan keyakinan di kalangan se­bagian pemikir feminisme bahwa wanita dia­nugerahi sifat khusus (entah itu secara alami atau melalui “sosialisasi”). Pengertian women’s movement (gerakan perempuan) adalah Atribut-atribut ini dianggap terkait dengan peran keibuan, ak­tivitas perempuan yang condong pada pen­gasuhan, dan atribut tersebut menjelaskan perhatian politik mereka berkenaan dengan isu-isu seperti perdamaian, kehidupan sosial dan demokrasi. Salah satu contohnya adalah Mother’s Manifesto yang dikeluarkan oleh bagian dari West German Green Party pada 1987, yang mengklaim pengakuan akan pentingnya peran ibu dan memuat tuntutan seperti revisi desain urban, gaji dan pensiun untuk pekerja rumah, pekerjaan yang fleksi­bel, penambahan waktu senggang dan fasili­tas aktivitas politik untuk ibu. Meskipun terkadang dikatakan bahwa ge­rakan berbasis-peran ini adalah contoh utama dari politik perempuan, ada nada NATURALISM dalam karakterisasi wanita sebagai sosok yang lebih etis ketimbang pria, lebih mudah berkompromi, lebih demokratis dan cinta da­mai. Pendekatan ini dikritik karena mengide­alkan dan mengesensialkan atribut gender; pendekatan ini biasanya juga mengesamp­ingkan pertimbangan konstruksi sosial dari atribut dan bentuk partisipasi politik perem­puan yang tidak sesuai dengan, atau berten­tangan dengan, model behavioural tersebut.