PENJELASAN-PENJELASAN UMUM ANTROPOLOGI

56 views

Kita telah melihat bagaimana orientasi yang berbeda-beda dapat menghasilkan interpretasi yang berbeda pula terhadap fenomena budaya. Namun teori antropologi apa pun yang dipakai, proses untuk sampai pada penjelasan tidaklah pernah sederhana. Memang bagaimanapun, suatu orientasi teoretis hanyalah umum sifatnya, yaitu mengandung suatu petunjuk umum untuk kita, memberi petunjuk mengenai kemungkinan mencari jawaban atas pertanyaan yang dihadapi; jadi tidak dengan sendirinya menyediakan jawaban tertentu untuk suatu pertanyaan tertentu. Kalau begitu bagaimana seorang ahli antropologi dapat mengembangkan suatu teori untuk menerangkan berbagai fenomena budaya? Sulit untuk menentukan suatu prosedur yang dapat menjamin akan menghasilkan suatu teori, karena untuk dapat menghasilkan suatu teori diperlukan imajinasi yang kreatif, dan tak ada prosedur penemuan yang dengan sendirinya dapat dipakai untuk menghasilkan kegiatan yang kreatif.

Ketergantungan yang terlalu besar pada suatu orientasi teori malahan sebenarnya dapat merugikan karena mungkin membuat peneliti buta terhadap kemungkinan-kemungkinan yang lain. Barangkali faktor yang lebih penting dalam pemakaian teori adalah kepercayaan peneliti bahwa ia dapat menemukan penjelasan yang dapat diterima. Bila seorang percaya bahwa sesuatu dapat dijelaskan, maka akan lebih besar kemungkinan bahwa ia akan mencatat fakta-fakta yang berkaitan dan pertimbangan-pertimbangan yang mungkin relevan akan diingatnya dan hal-hal itu semua akan dirangkumnya menjadi suatu penjelasan. Namun kita dapat menunjuk kepada beberapa prosedur yang telah menolong para ahli antropologi dalam menelorkan penjelasan tentang fenomena budaya. Prosedur-prosedur ini tampaknya dapat digolongkan ke dalam dua tipe: seorang ahli antropologi dapat menemukan penjelasannya melalui analisanya tentang suatu masyarakat tertentu di mana dia telah melakukan penelitian lapangan yaitu yang dinamakan analisa satu kasus (single-caseanalysis); atau dia dapat mencoba untuk sampai pada suatu teori dengan studi perbandingan dari beberapa masyarakat.

Dalam menganalisa satu kasus, seorang ahli antropologi mungkin tertarik untuk menjelaskan suatu kebiasaan tertentu. Jika dia masih di lapangan, dia mungkin bertanya kepada informan* mengapa mereka menjalankan (atau mereka mengira telah menjalankan) suatu kebiasaan. Kadang-kadang jawaban atas pertanyaan ini akan menghasilkan suatu penjelasan yang dapat diterima. Tapi lebih sering informan-informan menjawab sebagai berikut, “Sudah dari dahulu kami menjalankan kebiasaan itu”. Dalam keadaan yang begitu si peneliti dapat melakukan semacam pengkajian mental melalui pendalaman dari segi-segi lain dari masyarakat atau lingkungan masyarakat yang bersangkutan yang menurut pertimbangannya mempunyai kaitan dengan kebiasaan yang penjelasannya dicari-cari itu. Jika mungkin, ahli antropologi sebaiknya mencoba melihat situasinya dari sudut perkembangan sejarah, untuk mengetahui apakah kebiasaan itu baru muncul waktu akhir-akhir ini. Jika begitu keadaannya, dia mungkin mencoba untuk mendapat gambaran mengenai keadaan apa saja yang kiranya terdapat sebelum adanya kebiasaan itu dan yang menjelaskan mengenai kebiasaan itu.

Dalam usaha untuk menemukan penjelasan seorang ahli antropologi dapat juga membandingkan berbagai masyarakat di mana terdapat unsur budaya khas yang menarik perhatiannya itu, sehingga terungkap unsur-unsur lain yang biasanya ditemukan bersamaan dengan unsur yang dipelajarinya. Dia juga perlu mempelajari masyarakat-masyarakat yang tidak memiliki unsur khas tadi, karena penyebab yang mungkin dari timbulnya unsur tersebut, mestinya tak ada dalam masyarakat-masyarakat itu. Jika seorang peneliti menemukan bahwa suatu ciri budaya tertentu secara teratur tampak dalam kebudayaan yang berbeda-beda, bersamaan dengan hal-hal tertentu yang lain, maka secara agak pasti telah dapat dia katakan bahwa, ia telah mampu membatasi sebab-sebab yang mungkin menimbulkan unsur khas itu. Namun harus diingat, bahwa seorang peneliti bukanlah sebuah komputer, dia tidak menelusuri semua unsur-unsur budaya bersamaan yang ada dalam kebudayaan-kebudayaan yang berbeda. Peneliti-peneliti biasanya hanya melihat pada unsur-unsur yang dia kira dapat dikaitkan secara berarti. Di sinilah suatu orientasi teoretis berperan, karena orientasi tersebut mengarahkan kita untuk melihat kepentingan dari serangkaian faktor-faktor tertentu.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *