PERANAN TINGGI, PERANAN MENENGAH, PERANAN RENDAH

By On Monday, November 17th, 2014 Categories : Bikers Pintar

Setiap peranan sosial berasal langsung dari status sosial, maka pe-ranan tinggi, menengah, dan rendah, tergantung pada tinggi rendahnya status sosial yang ditempati seseorang atau golongan. Telah diterangkan bahwa tinggi-rendahnya status sosial ditentukan oleh duafaktoryaitu: sistem nilai budaya dari masyarakatyangbersangkutan dan keberhasilan (prestasi) seseorang dalam menunaikan peranan. Kalau diamati lebih dalam lagi akan lebih jelas bahwa kedua faktor di atas belum memberikan keterangan yang tuntas mengenai “bagaima na” sistem nilai budaya setempat menciptakan penjenjangan kedudukan sosial. Bahkan faktor kedua hanya berfungsi sebagai faktor yang memungkinkan promosi seseorang ke tingkatkedudukan yang lebih tinggi. Kriteria mana yang dipakai masyarakat dalam sistem budayanya untuk menilai aneka ragam peranan belum jelas. Misalnya, orang yang melakukan pekerjaan pembantu rumah tangga (pencuci, pemasak, penjahit), tukang kebun, tukang batu, walaupun mereka bekeija baik sekali, ternyata masyarakat tidak akan menilai mereka mempunyai pekerjaan (peranan) yang tinggi. Sebaliknya pekeijaan mereka dinilai rendah. Di lain pihak, pekerjaan sebagai presiden, raja, menteri, gubernur, rektor perguruan tinggi disebut pekerjaan tinggi.

Di sini kita berpatokan pada suatu nilai dari status dan peranan sebagaimana adanya, terlepas dari siapa yang menjabatnya dan bagai-mana pelaksanaannya. Berdasarkan pendapat umum yang ada dalam masyarakat, harus disimpulkan bahwa semua pekerjaan yang mem-berikan prestise tinggi disebut pekeijaan tinggi dan semua pekeijaan yang memberikan prestise rendah disebut pekerjaan rendah. Semua pekerjaan yang memberikan prestise menengah disebut pekerjaan menengah. Dengan sendirinya status (kedudukan) sosial dengan pekerjaan tinggi, menengah dan rendah, disebut status (kedudukan) tinggi, menengah dan rendah. Sudah dikatakan di atas bahwa sistem nilai budaya, yangberakar pada struktur masyarakat yangbersangkutan merupakan dasar terakhir dari tegaknya kesimpulan di atas. Prestise dalam konteks ini berarti gengsi atau kehormatan dan pengaruh. Gengsi bukanlah penyebab, melainkan akibat. Oleh karena itu struktur masyarakat sebagai dasar terakhir kesimpulan di atas ma-sih abstrak, masih perlu dicari titik tertentu mana dalam struktur yang memberikan gengsi besar di mata masyarakat. Realitas yang memberi kehormatan dan pengaruh besar itu ialah pusat pertemuan berbagai jabatan penting, atau secara teknis stasiun berbagai status penting beserta peranan-peranannya yang penting pula. Siapa pun yang menempati pusat (stasiun) itu mendapat kehor-matan tinggi, karena pusat macam itu ditempatkan pada jenj ang tangga yang tinggi dalam struktur masyarakat. Pengaruhnya pun besar, karena dari tempat itu pemegang status mendapat kekuasaan untuk mengatur “lalu lintas” kehidupan masyarakat. Dalam arti tertentu, kedudukan serta peranan demikian disebut “jabatan basah”, khususnya dalam masyarakat Indonesia.

Sebenarnyapusatberbagaijeniskedudukanyangadadalam struktur sosial itu pun bukanlah suatu penyebab, melainkan akibat. Sebagai contoh, para Dalai Lama, brahmana, pendeta, kyai, dan orang-orang sejenis itu diberi kedudukan tinggi dalam masyarakat bangsa-bangsa timur, tetapi tidak di dalam masyarakat Rusia. Harus diakui bahwa penempatan kedudukan seperti itu disebabkan oleh faktor-faktor nonsosiologis yang sifatnya supraempiris, tidak bisa dibahas secara tuntas oleh sosiologi.

Berbeda dengan prestise yang melekat erat pada status, prestasi tidak dihubungkan dengan kedudukan, melainkan dengan orang yang memegang status itu. Prestasi adalah hasil penunaian peranan. Prestasi ditentukan oleh keberhasilan yang kemudian menentukan tinggi rendahnya penghargaan. Seseorangyangmempunyai kedudukan tinggi dengan sendirinya akan mendapat prestise tinggi, tetapi dia dapat memperoleh penghargaan yang rendah, karena dia tidak berhasil melaksanakan peranannya, karena dia tidak menaati pola peri laku yang diharapkan masyarakat, atau karena dia melakukan perbuatan yang melanggar hukum.

Pertanyaan yang muncul adalah apakah prestise harus dibarengi dengan prestasi? Pertanyaan ini bukan semata-mata pertanyaan moral, tetapi juga merupakan masalah sosiologis, merupakan kewajiban struktural. Suatu struktur dibuat untuk berfungsi. Ia berfungsi melalui pusat-pusat penempatan kedudukan, yang kemudian diteruskan ke pe-ranan bagian. Masyarakat yang merupakan suatu sistem sosial hanya dapat berjalan sebagaimana mestinya jika semua unsur bekerja sesuai dengan struktur. Fungsi akan terganggu apabila terjadi salah susunan, jika satu dua bagian sistem tidak bekerja. Apalagi, kalau bagian yang tidak beres itu merupakan bagian yang penting. Seseorang yang menjalankan peranan rendah (misalnya: pembantu rumah tangga, petani kecil, nelayan, pembersih jalan) pada umumnya tidak mudah mendapat popularitas, sekalipun dia menjalankan tugasnya dengan prestasi tinggi. Sebaliknya orang yang menduduki pangkat tinggi dan dapat menunaikan tugasnya dengan hasil yang gemilang, lebih mudah mendapat penghargaan yang tinggi. Melalui alat-alat komunikasi massa, prestasi itu diberitakan ke segala lingkungan, lokal, nasional, kemudian internasional. Dengan kata lain, prestasi tinggi dari orang-orang penting mendatangkan popularitas, bahkan dapat menumbuhkan kultus individu.

PERANAN TINGGI, PERANAN MENENGAH, PERANAN RENDAH | ADP | 4.5