POLA KEPEMIMPINAN DALAM ORGANISASI DAN PERUSAHAAN

90 views

Setelah mengadakan banyak penelitian maka para psikolog sepakat untuk menyimpulkan bahwa terdapat hubungan yang tidak sederhana dalam moral dan produktivitas, dalam kantor, dalam perencanaan, atau dalam percobaan di laboratorium. Kepuasan akan pekerjaan tidak saja diperlukan untuk mencapai hasil produksi yang tinggi. Hal ini banyak bergantung pada variabel yang lain, yakni incentives, supervision, tingkatan status, kebutuhan pribadi individu untuk berprestasi, tingkatan kerja, dan sebagainya. Kita mengetahui tentang pengontrolan yang baik daripada keteraturan organisasi. Seorang mandor akan sulit memimpin secara demokratis apabila kepala atau atasan dengan stafnya memimpin secara otokratis. Hal ini sangat jelas karena mandor harus mengikuti aturan dari organisasi di mana atasannya lebih mempunyai wewenang dalam tampuk pemerintahan dalam perusahaannya.

Dalam studi tentang empat tingkatan manajerial menyimpulkan tentang tingkat kepemimpinan, di mana seperti struktur sosial lainnya, pemimpin dengan kepemimpinannya mempunyai peranan yang berbeda. Misalnya dalam peranan yang dimainkannya, bila ia seorang mandor atau seorang direktur utama tentu memerlukan suatu kondisi yang efektif untuk organisasi yang dipimpinnya. Di sini diperlukan kondisi yang menunjang keputusan dari pemimpin karena keputusan pemimpin/pimpinan perusahaan akan mempengaruhi jalannya perusahaan secara keseluruhan. Maka dapat dimengerti mengapa kemampuan individu mempengaruhi posisi yang didudukinya. Seseorang mungkin dapat menjadi seorang mandor yang baik, atau seorang profesional, tetapi belumlah cukup menjadi seorang manajer utama. Pertama kita harus melihat tingkatan yang dapat dikembangkan sehubungan dengan peranan yang akan dipegangnya atau yang akan dikendalikannya. Selain itu pada masa-masa sekarang ini, kita harus memperhatikan era komputer, tim atau kelompok yang unggul, konsesus pemerintahan, pola kepemimpinan yang selalu berubah sesuai dengan keinginan, atau kebutuhan yang baru dari individual.

Maka sebaiknya kita memperhatikan tentang situasional dalam mempelajari kepemimpinan. Misalnya dalam studi kelompok kerja yang kecil, yang mana mempunyai ciri terbesar adanya interaksi menyeluruh di antara anggota kelompoknya atau di antara pekerja dengan pengontrolnya terdapat saling ketergantungan yang besar, dan pada umumnya mereka mempunyai sikap yang baik terhadap pemim- pinnya. Selain itu, kita dapat memperhatikan pekerja dalam kelompok yang besar, kesempatan dalam interaksi di antara pekerjanya dan di antara pekerja dengan supervisor banyak batasannya dan individualitas para pekerja cukup tinggi. Hal ini dapat diketemukan sikap yang baik bila mendapat pimpinan yang autoriter (berwibawa).

Hal yang ekstrim bila pimpinan memegang aturan secara ketat dan terlalu birokratis. Di satu pihak yang ekstrim terdapat group-centered dan demokratik. Di antara keduanya akan diketemukan pola pimpinan yang authoritarian-centered atau autokrasi, dan pola pimpinan individual-centered atau ideocratic.

Menurut beberapa penelitian, misalnya Fiedler (dalam Industrial and Organizational Psychology, B. Von Haller Gilmer), meneliti tentang situasi yang berbeda yang diperlihatkan oleh keefektifan dalam gaya kepemimpinan di mana hal ini sangat bergantung pada penerimaan kelompoknya. Pimpinan yang sangat diterima dan sangat ditolak ialah pimpinan yang mengontrol dan mengatur, sedangkan terhadap pimpinan yang tidak diterima dan juga tidak ditolak adalah pimpinan yang mempunyai gaya permissive dan nondirektif (mengizinkan atau memberikan kelonggaran dan tidak memerintah).

Incoming search terms:

  • pola kepemimpinan
  • pola kepemimpinan dalam organisasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *