SEJARAH PERKEMBANGAN HAK ASASI MANUSIA (HAM) UMUM

By On Friday, July 3rd, 2015 Categories : Bikers Pintar

Sejak Tuhan menciptakan makhluk manusia, Tuhan membekali manusia dengan hak asasi. Namun di dalam realita kehidupan manusia tidaklah mudah untuk memperoleh hak asasinya itu, sebagaimana digambarkan oleh Thomas Hobbes (1588-1679) manusia merupakan serigala bagi manusia lain, sehingga semua orang akan melawan semua orang (Homo homini lupus, bellum omnium contra omnes).

Perjuangan yang berhasil berawal di Inggris pada tahun 1215, yang dilakukan kaum bangsawan terhadap rajanya. Perkembangan selanjutnya ialah adanya revolusi Amerika (1776) dan revolusi Perancis (1789). Revolusi Amerika menuntut hak bagi setiap orang untuk hidup merdeka, dalam hal ini bebas dari kekuasaan Inggris. Revolusi Perancis bertujuan untuk membebaskan manusia warga negara Perancis dari kekangan kekuasaan mutlak raja Louis ke XIV dan Louiss XV.

Inggris memiliki tradisi perlawanan lama terhadap segala usaha raja untuk mengambil kekuasaan mutlak. Pada tahun 1215 para bangsawan sudah memaksa raja untuk memberikan Magna Charta Libertatum yang melarang penahanan, penghukuman, dan perampasan benda dengan sewenang-wenang. Tahun 1679 menghasilkan pernyataan Habeas Corpus, suatu dokumen keberadaban hukum bersejarah yang menetapkan bahwa orang yang ditahan harus dihadapkan daalam waktu tiga hari kepada seorang hakim dan diberitahu atas tuduhan apa ia ditahan. Pernyataan ini menjadi dasar prinsip hukum bahwa orarVg hanya boleh ditahan atas perintah hakim.

Sesudah the glorious revolution menggantikan raja James II dengan William dari Oranye, William dalam Bill of Rights (1689) harus mengakui hak-hak parlemen, sehingga Ingg-is menjadi negara pertama di dunia yang memiliki sebuah konstitusi dalam arti modern. Perkembangan itu dipengaruhi oleh filsafat John Locke (1632-1704) yang disamping menuntut toleransi religius mengemukakan bahwa semua orang diciptakan sama dan memiliki hak-hak alamiah (natural rights) yang tidak dapat dilepaskan, diantaranya termasuk hak atas hiudp, kemerdekaan dan hak miiik, tetapi juga hak untuk mengusahakan kebahagiaan. (Fronz Magnis Suseno, 1988).

Gagasan-gagasan John Locke amat berpengaruh dalam abad ke 18, terutama di daerah jajahan Inggris di Amerika dan di Perancis, dan menjadi dasar filosofis liberalisme. Kalimat-kalimat permulaan dari Bill of Rights of Virginia (1776), daftar hak-hak asasi manusia agak lengkap yang pertama, hampir secara harafiah mengumandangkan John Locke. Revolusi Perancis 1789 menghasilkan suatu “pernyataan tentang hak-hak manusia dan warga negara” (Declaration des droits des homnes et des citoyens) yang kemudian menjadi pedoman bagi banyak pernyataan. Di dalamnya dibedakan antara hak-hak yang dimiliki manusia sebagai manusia, yang dibawanya ke dalam masyarakat, dan hakhak yang diperoleh manusia sebagai warga masyarakat dan negara. Disebutkan bahwa semua orang lahir dengan bebas dan sama haknya. Disebutkan hak atas kebebasan, hak milik, hak atas keamanan atas perlawanan terhadap penindasan. Sebagai warga negara orang berhak untuk ikut dalam pembuatan Undang-undang. (Fronz Magnis Suseno, 1988)

Rakyat Amerika Serikat menyatakan kemerdekaannya (Declaration of Independence) pada tanggal 4 Juli 1776. Deklarasi ini tidak hanya mengumumkan kelahiran sebuah negara baru, tetapi juga mencetuskan suatu falsafah kemerdekaan manusia. la tidak bersandar kepada keluhan-keluhan khusus, melainkan berpijak pada landasan kebebasan perseorangan.

Perang Dunia I dan II telah menimbulkan kesengsaraan di kalangan masyarakat seluruh dunia: ketakutan dan rasa tidak aman melanda manusia. Kekejaman -fasisme Jerman, Italia dan Jepang pada Perang Dunia II sangat menginjak-injak hak-hak serta martabat manusia. ; karena itu p^da tchur iy48 Presiden Amerika Serikat, Franklin D Roosevelt, menyatakan the Four Freedoms (empat kebebasan) di depan kongres Amerika Serikat. Isinya bernyui sebagai berikut :

  1. Kebebasan untuk berbicara dan menyatakan pendapat (Freedom of speech).
  2. Kebebasan beragama (Freedom of religion).
  3. Kebebasan dari ketakutan (Freedom from fear).
  4. Kebebasan dari kekxrangan atau kemelaratan (Freedom from want). (Ridhwan Indra Ahadian, 1991).

Pada tahun 1946 Perserikatan BangsaBangsa (PBB) membentuk komisi HAM, dimana soal-soal hak sosial dan ekonomi diberi tempat disamping hak-hak politik. Setelah bersidang dengan pembahasan matang, pada tanggal 10 Desember 1948 PBB menerima secara bulat hasil pekerjaan komisi berupa pernyataan sedunia tentang Hak Asasi Manusia/ Universal Declaration of Human Rights (UDHR). Hanya beberapa negara termasuk Uni Soviet tidak memberikan suara.

Kalau dirinci UDHR dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu mukadimah, proklamasi dan batang tubuhnya. Dalam mukadimah diungkapkan tujuh alinea pertimbangan mengenai alasan-alasan penyusunan deklarasi tersebut. Sedangkan pada bagian proklamasi memuat harapan-harapan agar pernyataan HAM bisa menjadi dasar pelaksanaan umum bagi semua bangsa dan negara. Ditambahkan pula supaya orang dan setiap badan kemasyarakatan bisa terus mempertinggi penghargaan terhadap hak-hak dan kebebasan-kebebasan manusia. Batang tubuh pernyataan HAM terdiri dari 30 pasal, diantaranya ada yang terbagi dalam beberapa ayat. Penyusunan kalimat-kalimat dalam deklarasi ini tampak jelas mengungkapkan segi-segi hak dan kedudukan individu, serta larangan-larangan terhadap seseorang. Kalimat-kalimat “Setiap orang berhak atas. . . .” dan “Tiada seorang jua pun boleh di                ” bisa dipandang se-bagai usaha mendudukan manusia sebagai manusia seutuhnya. (Ridwan Indra Ahadian, 1991).

 

SEJARAH PERKEMBANGAN HAK ASASI MANUSIA (HAM) UMUM | ADP | 4.5