SISTEM PRODUKSI PABRIK MINYAK KELAPA SAWIT

By On Saturday, October 24th, 2015 Categories : Bikers Pintar

Kelapa sawit menyumbangkan nilai ekonomi cukup tinggi dalam pembangunan di Indonesia. Untuk memperoleh nilai ekonomi tinggi tersebut diperlukan sistem produksi yang efektif dan efisien. Efektivitas dan efisiensi dapat dicapai dengan penentuan lokasi kebun dan pabrik yang tepat, penempatan peralatan pabrik yang mendukung proses, serta penanganan persediaan yang baik.
Peran kelapa sawit dalam mendukung perekonomian nasional cukup menonjol, hal ini terlihat dari konstribusinya yang cukup besar dibandingkan dengan 22 komoditas perkebunan lainnya. Nilai produksi yang dihasilkan pada tahun 1991 sebesar Rp.3,80 trilyun (51,2% dari nilai sub-sektor perkebunan), sedangkari nilai tambahannya atau nilai output setelah dikurangi nilai input sebesar Rp.1,76 trilyun (54% nilai sub-sektor perkebunan). Dari jumlah tersebut telah berhasil (mengembangkan nilai ekspor sebesar 3,35 juta dolar AS. Kemampuan menyerap tenaga kerja tetap 216.716 dan tenaga kerja tidak tetap 18.385.580 hari orang kerja.
Di antara tenaga kerja tetap tersebut 23.592 orang merupakan tenaga kerja pabrik, sisanya ditambah tenaga kerja tidak tetap merupakan tenaga administrasi dan tenaga lapangan.
Produksi perkebunan kelapa sawit berupa tandan buah segar (TBS). TBS kelapa sawit yang telah dipanen perlu diolah lebih lanjut agar diperoleh bahan bernilai ekonomi tinggi yaitu minyak ke-lapa sawit (Crude Palm Oil atau CPO) dan inti sawit (Palm Kernel atau PK). Untuk mendapatkan CPO dan PK yang baik harus diikuti syarat-syarat pemanenan yang baik dan sistem pengolahan yang tepat.
Setiap TBS mengandung 60 65% brondolan (fruit), dan setiap brondolan mengandung 54% daging buah (pericarp), 32% cangkang (Shell), dan 14% inti sawit (Bintoro, 1988). Daging buah dan inti merupakan bagian-bagian terpenting dalam pengolahan. Kandungan daging buah terdiri dari 95% gliserin dan 5% asam lemak. Sedangkan inti sawit mengandung 52% minyak inti.
Gliserin dan asam lemak dalam bahasa sehari-hari disebut dengan CPO. Bahan ini menjadi penting karena memiliki banyak kegunaan antara lain .mentega, sortening, vanaspaty (substitusi mentega yang berasal dari susu kambing), minyak goreng, minyak pelumas, pelentur kulit, pencampur kosmetika, obat-obatan, bahan tambahan untuk coklat, lilin, sabun, tinta, crayon, serta sebagai pemisah campuran bijih tembaga dan cobalt.
Pengolahan TBS pada dasarnya memisahkan minyak dari daging buah dan pengupasan inti sawit. Proses yang dilakukan umumnya bersifat mekanik yang meliputi perebusan dengan uap, perontokan, pelumatan, pengepresan, penyaringan minyak, pembersihan kulit biji, pemanasan kulit biji, pemecahan biji, pemanasan inti sawit, pembersihan inti sawit, serta penimbangan CPO dan Kernel. Proses tersebut membutuhkan air cukup banyak sebagai bahan pembantu ekstraksi maupun sebagai pencuci peralatan pabrik. Selain menghasilkan CPO dan Kernel pabrik minyak kelapa sawit menghasilkan limbah. Hal ini menyebabkan Unit Pengolahan Limbah (UPL) menjadi salah satu kebutuhan yang harus dipenuhi.
TBS mempunyai sifat-sifat antara lain harus diproduksi dalam skala besar sehingga membutuh kan lahan yang luas berupa hamparan, mudah rusak yang ditandai
dengan meningkatnya asam lemak bebas (ALB) sebesar 0,4 0,5% per hari yang menyebutkan kualitas CPO dan Kernel menurun. Oleh karena itu pemilihan lokasi yang tepat untuk mendirikan pabrik kelapa sawit merupakan suatu kebutuhan mendasar, dan biasanya pembangunan pabrik minyak kelapa sawit satu paket dengan perkebunannya. Di samping itu pabrik minyak kelapa sawit membutuhkan sarana-sarana pelengkap dan pendukung yang berupa jalan, perumahan karyawan, ruarig parkir, kantor unit pengolahan, laboratorium, gudang, unit pengolahan air, sumber tenaga, incenerator, bengkel dan unit pengolahan limbah. Agar sarana-sarana tersebut dapat berfungsi dengan baik maka diperlukan tata letak yang sesuai. Dalam tulisan ini akan diuraikan hal-hal yang berkaitan dengan lokasi, tata letak, pengelolaan bahan mentah dan produksi, sera pengelolaan pabrik kelapa sawit.
Secara ekonomi CPO dan Kernel memberikan kontribusi yang cukup besar, sehingga peningkatan produksinya perlu terus dilakukan. Peningkatan produksi dapat dilakukan dengan penambahan luas tanam kelapa sawit disertai dengan peningkatan jumlah dan kapasitas pabrik pengolahannya. Seperti telah’ disinggung sebelurpnya TBS harus diproduksi dalam hamparan yang luas,mengalami penurunan kualitas dengan naiknya ALB, proses pengolahannya membutuhkan air cukup banyak, membutuhkan sarana-sarana pelengkap dan pendukung pabrik, serta tenaga kerja yang kontinu. Kondisi yang demikian membutuhkan penerapan manajemen produksi dan operasi yang tepat agar penentuan lokasi, tata letak, pengelolaan bahan mentah dan produk, serta pengelolaan tenaga kerja dapat memberikan hasil yang optimal secara teknis maupun ekonomis.
Tulisan ini bertujiian antara lain untuk :
1. Membantu memahami aspekaspek produksi CPO dan Kernel dari pengolahan bahan mentah berupa TBS.
2. Memberikan penjelasan tentang keuntungan penerapan manajemen produksi dan operasi dalam mengoptimalkan sumber daya alam, waktu dan dana dalam pengolahan TBS menjadi CPO dan Kernel.
Bertitik tolak dari tujuan yang dipaparkan diharapkan sistem produksi pabrik minyak kelapa sawit bermanfaat dalam menambah pengetahuan kalangan awam, pengusaha dan ilmuwan tentang praktek produksi CPO dan Kernel yang menjadi produk primadona perkebunan.
KELAPA SAWIT
Di Indonesia umumnya produktivitas kelapa sawit sekitar 24 ton/ Ha/tahun. Saat produksinya umur 3 25 tahun, dengan pola produksi seperti parabola. Distribusi produksi setiap bulan dalam satu tahun tidak sama, umumnya mengikuti pola dari Januari sampai dengan Desember, sebagai berikut : 11, 8 , 7, 6, 5, 5, 7, 8, 11, 12, 13 persen (Bintoro, 1988).
Lokasi
Pemilihan lokasi yang tepat akan meminimumkan biaya produksi, meningkatkan pendapatan serta keuntungan. Ada beberapa faktor yang berpengaruh dalam pemilihan lokasi usaha antara lain : lingkungan masyarakat, kedekatan dengan pasar, tenaga kerja, kedekatan dengan bahan mentah, fasilitas dan biaya transportasi, sumber daya alam, serta kemungkinan perluasan (T. Hani Handoko, 1993). Lingkungan masyarakat menyangkut kesediaan masyarakat menerima dampak negatif berupa pencemaran oleh limbah akibat
UPL yang tidak efektif dan dampak positif berupa adanya kemungkinan kesempatan berusaha serta kesempatan kerja yang dapat menambah pendapatan masyarakat. Kedekatan dengan pasar merupakan pangsa pasar terbesar. Kedekatan dengan bahan mentah menurut Eddy Herjanto (1994) meliputi dua pertimbangan yaitu tingkat kepentingan (neccessity) dan tingkat ketahanan rusak (perishability). Tenaga kerja meliputi ketersediaan jumlah dan mutunya. Sumber daya alam meliputi jumlah dan mutu air, tanah, udara, dan sebagainya. Sedangkan perluasan meliputi rencana penambahan kapasitas pabrik dan jumlah bangunan.
Pengelolaan Material dan Persediaan
Agar proses dapat berjalan lancar dan kontinu pengelolaan material perlu mendapat perhatian serius. Material yang ditangani dapat berupa bahan mentah, bahan baku, uang, surat, atau penumpang angkutan. Pengelolaan material meliputi penanganan, penyimpanan, transportasi, dan pengendalian. Perencanaan pengelolaan material yang baik akan menurunkan biaya produksi dan operasi (Sofjan Assauri 1993, T. Hani Handoko, 1993, dan Eddy Herjanto, 1994.
Pengelolaan persediaan pada dasarnya hampir sama dengan pengelolaan material. Keuntungan yang akan diperoleh dengan melakukan pengelolaan persediaan yang baik adalah dapat melayani kebutuhan persediaan akan bahan mentah atau bahan jadi secara kontinu serta dapat meminimalkan biaya produksi dan operasi. Di samping itu dengan pengelolaan persediaan yang baik kepuasan pelanggan akan terpenuhi sehingga kemungkinan pelanggan pindah ke penjual lain dapat di atasi (Sofjan Assauri, 1993, T. Hani Handoko, 1993 dan Eddy Herjanto, 1994).

Lokasi Pabrik
Pabrik minyak kelapa sawit menggunakan bahan mentah TBS untuk menghasilkan CPO dan kernel. TBS harus diproduksi dalam skala besar dan pada hamparan tanah yang luas agar dapat memberikan hasil yang menguntungkan. Sifat-sifat fisik TBS adalah mudah rontok jika terlalu masak, mudah, memar, kandungan ALB meningkat dengan kecepatan 0,4% 0,5% / hari sehingga kualitasnya menurun. Atas dasar pertimbangan di atas lokasi harus dekat dengan kebun (jarak dengan tiiik terjauh sekitar 10 km) dan luas kebun harus mampu mendukung pengolahan secara kontinu sesuai dengan kapasitas pabrik. Di samping faktor kepentingan dan ketahanan terhadap kerusakan masih ada faktor lain yang sangat menentukan keberhasilan pabrik minyak kelapa sawit. Faktor-faktor tersebut adalah ketersediaan air, tenaga kerja dan lingkungan masyarakat, serta faktor-faktor lain yang berbobot kecil antara lain fasilitas listrik, fasilitas transportasi, dan kemungkinan pengembangan.
Air merupakan bahan penting dalam pengelolaan TBS menjadi CPO dan kernel. Kegunaan air tersebut sebagai pengisi ketel untuk menghasilkan uap yang selanjutnya digunakan untuk menggerakkan turbin, perebusan, dan pengepresan. Peran air dalam proses ini sangat besar sehingga harus membangun instalasi air tersendiri. Tanpa air proses pengolahan TBS tidak mungkin sama sekali. Di samping itu air juga berperan untuk membersihkan peralatan dan pabrik
setelah beroperasi, serta untuk nengobhan sekitar 1,2 m3/ton TBS diolah. Sedangkan kebutuhan air untuk pencucian pabrik sekitar 10 15 m3/hari serta kebutuhan air untuk rumah tangga karyawan sekitar 25 30 m3/hari (100 rumah karyawan).
Mesin-mesin yang digunakan dalam pabrik minyak kelapa sawit umumnya bekerja secara otomatis yang digerakkan dengan tenaga listrik yang berasal dari diesel milik pabrik atau turbin yang memperoleh tenaga dari boiler. Namun demikian masing-masing bagian (stasiun) mmbutuhkan operator-operator tersendiri sehingga tenaga kerja manusia tetap dibutuhkan. Tenaga kerja yang digunakan umumnya tidak harus memiliki pendidikan formal yang tinggi, tetapi keterampilannya dituntut memadai. Tingkat keterampilan tenaga kerja tergantung pada pembinaan yang dilakukan oleh perusahaan. Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan tidak terlalu banyak. Karena sifat operasinya yang harus kontinu, maka tenaga kerja pabrik’ umumnya tenaga tetap dengan memperoleh fasilitas perumahan dari perusahaan.
Hal yang selalu menimbulkan kontroversial terhadap keberadaan pabik minyak kelapa sawit adalah pencemaran oleh limbah cairnya. Limbah cair pabrik minyak kelapa sawit memiliki potensial pencemaran yang tinggi baik berupa bau yang tidak enak maupun berupa bahan-bahan yang dikandungnya. Potensi pencemaran pabrik minyak kelapa sawit disajikan pada Tabel 3.1. Dari tabel di atas jelas terlihat hampir semua bahan pencemar di atas baku mutu yang ditetapkan oleh Kep Men KLH No.3 tahun 1991. Hal ini berarti UPL menjadi syarat mutlak dan aspek lingkungan masyarakat memperoleh bobot yang tinggi dalam penentuan lokasi pabrik. Jika pabrik telah beroperasi dengan baik boiler akan mampu menghasilkan uap cukup banyak untuk menggerakkan turbin. Bahan bakar boiler berupa cangkang, serabut, tandan kosong, dan sedikit solar. Dari kenyataan ini fasilitas listrik memiliki bobot yang kecil dalam menentukan pabrik minyak kelapa sawit.
Pembangunan pabrik minyak kelapa sawit terkait iangsung dengan pembangunan kebunnya. Tanpa luasan yang cukup pabrik minyak kelapa sawit tidak mungkin dibangun. Karena kebun membutuhkan hamparan tanah yang luas, dengan sendirinya harus membuka areal hutan, dan pabrik juga terletak di sana. Untuk itu biasanya pihak perusahaan harus membangun jaringan transportasi sendiri untuk masuk dan keluar kebun maupun di dalam kebun. Fasilitas transportasi yang harus sudah ada relatif tidak menjadi masalah, karena hampir seluruh propinsi yang arealnya sesuai untuk kelapa sawit transportasinya sudah memadai kecuali Irian Jaya. Dengan demikian fasilitas dan biaya transportasi memiliki bobot rendah.
Kapasitas pabrik minyak kelapa sawit yang dapat beroperasi secara komersial minimal 30 ton TBS/jam. Dengan beroperasi 3 shift atau 21 jam/hari dan hari kerja 25 hari per bulan, pabrik tersebut mampu melayani luasan 5000 ha. Penambahan kapasitas pabrik biasanya merupakan kelipatan 30 ton TBS/jam, sebagai contoh 60 ton TBS/jam atau 90 ton TBS/jam. Namun jika kapasitas 90 ton TBS/jam harus dibuat 2 pabrik dengan masingmasing 30 ton TBS/jam dan 60 TBS/jam. Penambahan kapasitas ini tidak sulit oleh karena itu faktor penambahan kapasitas memperoleh bobot kecil.
Di samping hal-hal yang telah diuraikan di atas penentuan lokasi pabrik minyak kelapa sawit juga perlu mempertimbangkan aspekaspek pendukungnya seperti kantor, laboratorium, bengkel pabrik, incererator, lapangan parkir, UPL perumahan karyawan lengkap dengan fasilitas sosialnya. Kantor, laboratorium bengkel pabrik, incenerator, lapangan parkir, dan UPL terletak satu kompleks dengan pabrik. Sedangkan jarak perumahan karyawan dan fasilitas sosial sebaiknya kurang dari 4 km.
Tata Letak Pabrik
Tata letak pabrik berkaitan dengan proses yang terjadi dalam pabrik. Berdasarkan katagori tata letak, pabrik minyak kelapa sawit menganut pola product lay out. Mesin-mesin disusun sedemikian rupa untuk memudahkan proses dari awal hingga aknir. Tahap-tahap yang dilalui TBS dari lapangan hingga menjadi CPO dan Kernel adalah sebagai berikut : TBS masuk ke lokasi pabrik melalui jembatan timbang, kemudian dituang pada loading ramp, direbus, dirontokkan, dilumatkan, dipres, disaring, CPO ditimbang, disimpan dalam storage tank. Biji yang bercampur serabut dibersihkan, dipanaskan, dipecah, dipisahkan, kernel dipanaskan, disortasi, kernel ditimbang, dikemas, dan disajikan pad Gambar 3.1. Sedangkan untuk melakukan proses di atas tata letak pabrik disusun seperti Gambar 3.2.

SISTEM PRODUKSI PABRIK MINYAK KELAPA SAWIT | ADP | 4.5