TIPE DAN FUNGSI KEPEMIMPINAN

61 views

Para ahli filsafat dan ahli teori sosial telah berusaha untuk menyimpulkan pandangannya dengan mengajukan bermacam-macam tipologi kepemimpinan. Di dalam In The Republic, Plato mengajukan liga tipe kepemimpinan:

  1. Ahli filsafat, negarawan yang memerintah republik dengan penalaran dan keadilan.
  2. Militer, untuk mempertahankan negara dan pelaksana kebijaksanaan.
  3. Pedagang, menyediakan kebutuhan material penduduk.

Conway membagi tiga tipe kepemimpinan masyarakat sebagai berikut:

  1. crowd-compeller, membakar semangat para pengikut dengan pandangan-pandangannya;
  2. crowd-exponent, merasakan dan mengekspresikan apa yang menjadi keinginan masyarakat;
  3. crowd-representative, hanya dengan bermodalkan suaranya saja ia membentuk pendapat dari rakyatnya.

Pembagian dari Conway tersebut di atas dipengaruhi oleh Le Bon (1897) yang menggambarkan pemimpin masyarakat sebagai manusia pelaksana (man of action) yang sangat meyakinkan, yang memiliki keyakinan sangat kuat dan secara sungguh-sungguh menolak semua penalaran dari luar diri dan memaksa massa untuk mengikutinya. Bogardus (1918) mengajukan empat tipe pemimpin, yaitu:

  1. tipe otokratik, yang berkuasa di dalam organisasi yang kuat;
  2. tipe demokratik, yang melambangkan interes dari kelompok;
  3. tipe eksekutif, yang memperoleh kepemimpinannya karena segala hal dapat terlaksana;
  4. tipe cerminan intelektual, yang mendapat kesukaran dalam merebut banyak pengikut.

Chapin (1924) memperbedakan:

  1. tipe pemimpin politik-militer yang menarik simpati massa dengan kepribadian yang dimilikinya,
  2. pemimpin sosial yang memimpin para pengikutnya dengan meng-identifikasikan dirinya dengan program atau gerakan bersama.

Bartlett (1926) mengajukan klasifikasi yang agak berbeda. Pemimpin institusional memantapkan diri melalui kebaikan martabat posisi yang didudukinya. Tipe dominatif memperoleh dan mempertahankan posisinya melalui penggunaan kekuasaan dan pengaruhnya. Tipe persuasif memasukkan pengaruhnya melalui kemampuannya dalam hal menarik simpati pengikutnya dan mempengaruhinya untuk melakukan tindakan yang diinginkannya. Bartlett dalam hal ini sangat dipengaruhi oleh analisis Leopold (1913) mengenai kewibawaan.

Sanderson dan Nafe (1929) mengajukan empat tipe pemimpin yaitu:

  1. Pemimpin statis, merupakan orang-orang profesional atau cendekiawan yang bermartabat tinggi yang kerjanya mempengaruhi pikiran orang lain;
  2. Pemimpin eksekutif, melaksanakan kontrol melalui otoritas dan kekuasaan dari posisi yang didudukinya;
  3. Pemimpin profesional, berfungsi untuk merangsang para pengikutnya untuk mengembangkan dan menggunakan kemampuannya masing-masing;
  4. Pemimpin kelompok, bekerja demi kepentingan anggota kelompok.

Kincheloe (1928) menggolongkan “nabi” sebagai pemimpin tanpa jabatan tertentu. “Nabi” muncul bila terjadi kekacauan, dan dia menciptakan situasinya sendiri. Kebolehannya dapat terlihat dalam meningkatkan minat para pengikutnya sehingga mereka dapat menerima tujuan yang ditetapkannya serta mendukungnya dengan antusias. Dia menjadi simbol dari gerakan yang diprakarsainya, dan segala ucapannya yang otoriter cenderung menjadi penawar impuls para pengikutnya.

Nafe (1930) mengajukan analisis perseptif mengenai pemimpin yang dinamis, yang selalu mengarahkan perhatian para pengikut kepada aspek-aspek perseptual dan ideational dari pikiran yang dialihkan ke bidang emosional dan dari emosi ke tingkah laku. Sikap, menurut Nafe, menempati posisi penting baik dalam diri individu maupun pemimpin. Kepemimpinan hanya ada di dalam cara bersikap dari para pengikut.

Harding (1949) mengajukan sejumlah 21 tipe kepemimpinan edukasi sebagai berikut: autokrat, koperator, negarawan senior, orang yang rajin, orang suci (seperti Paus), kacau-beliau, pegawai yang setia, nabi, sarjana, dukun, dogmatis, terbuka, filusuf, niagawan ulung, kebajikan yang lalim (benevolent despot), pelindung anak, laissez-faire, community-minded, sinis, optimis, dan demokrat.

Menurut Haiman (1951) ada lima tipe pemimpin yang dibutuhkan dalam demokrasi, yaitu:

  1. eksekutif,
  2. hakim,
  3. pembela/advokat,
  4. tenaga ahli/expert,
  5. pemimpin diskusi.

Clarke (1951) mengajukan tiga tipe pemimpin, yaitu:

  1. Pemimpin populer, pengaruh yang ditimbulkannya terutama karena perpaduan yang unik dari sifat-sifat kepribadiannya atau keteram-pilannya/kemampuannya;
  2. Pemimpin kelompok, melalui pemahamannya tentang kepribadian memungkinkan anggota kelompok mendapat pengalaman-pengalaman yang memuaskan;
  3. Pemimpin pribumi/asli, muncul dalam situasi di mana para anggota kelompok membutuhkan dukungan dan bimbingan.

Getzels dan Guba (1957) mengajukan tiga tipe kepemimpinan (dua

di antaranya berkaitan dengan dimensi aktivitas kelompok), yaitu:

  1. Nomothetic leadership, berkaitan dengan masalah harapan-harapan dan peranan-peranan yang menentukan dimensi normatif dari aktivitas di dalam sistem sosial;
  2. Idiographic leadership, berhubungan dengan kebutuhan individual dan disposisi anggota yang menentukan dimensi personal dari aktivitas kelompok;
  3. Synthetic leadership, ‘mendamaikan’ tuntutan-tuntutan yang berbeda yang muncul dari adanya dua sistem yang bertentangan/berlawanan di dalam kelompok.

Bell, Hill dan Wright (1961) dalam penelitiannya tentang kepemim-pinan masyarakat mengidentifikasikan sebagai berikut:

  1. Pemimpin formal, yang memperoleh posisi jabatannya melalui sistem pengangkatan atau pemilihan;
  2. Pemimpin reputasional, yang cukup berpengaruh/disegani dalam masalah-masalah komuniti atau nasional;
  3. Pemimpin sosial, berpartisipasi secara aktif dalam organisasi sukarela;
  4. Pemimpin, yang mempengaruhi orang lain dalam kontak sehari-hari.

Golembiewski (1967) mengajukan dua tipe kepemimpinan di dalam

organisasi formal, yaitu:

  1. Model kolega, secara tidak langsung menyatakan tipe fungsional yang memperkenankan pergantian/penggiliran kepemimpinan dari satu individu ke individu lainnya dalam tingkatan yang sama dalam organisasi;
  2. Model tradisional, kepemimpinan yang berlangsung relatif bertahan pada posisi yang dimantapkan lewat hubungan otoritas yang bertingkat-tingkat.

Cattell (1954) mengidentifikasikan empat tipe pemimpin di dalam kelompok eksperimen, yaitu:

I Kegigihan, pemecahan problem secepat mungkin, dan sering berinteraksi;

‘ Pemimpin yang menonjol, orang yang pengaruhnya sangat kuat di

dalam kelompok;

3 Pemimpin sosiometrik, dipilih oleh teman-temannya/peer; dan I Pemimpin terpilih, memperoleh jabatan melalui pemilihan.

Enam belas penulis yang dipublikasikan antara tahun 1915 sampai tahun 1951 mengajukan dua atau lebih tipe-tipe kepemimpinan. Tipe dan jumlah penulis yang mengajukan tipe tersusun di bawah ini:

Tipe Kepemimpinan       Jumlah Penulis

A uthoritative (dominator)          7

Persuasif (crowd arouser)            8

Demokratik (group developer)  1

Intelektual (orang unggulan)      6

I ksekutif (administrator)              6

Representatif (juru bicara)          4

Sangat menarik untuk dicatat bahwa akhir-akhir ini para peneliti dan ahli teori kurang mencurahkan perhatiannya secara komparatif kepada tiga tipe yang tersusun di atas, yaitu persuasif, intelektual dan representatif. Teori-teori dari generasi terdahulu yang bersifat armchair ;itau hanya duduk di belakang meja telah ditolak karena dipandang tidak realistis dan salah arah, juga karena dianggap tidak cukup memiliki validitas. Para ahli teori belakangan ini lebih tertarik untuk membahas dua tipe kepemimpinan, authoritative dan demokratik. Authoritative sekarang ini disebut sebagai berorientasi kepada tugas atau yang berstruktur. Demokratik disebut sebagai berorientasi kepada individu atau penuh perhatian. Eksekutif tidak dipandang sebagai tipe yang tersendiri, tetapi diklasifikasikan sebagai tugas atau individu. Penelitian para penulis menunjukkan bahwa pola persuasif tingkah laku merupakan subkelas dari orientasi tugas atau pembentukan tingkah laku, tetapi dalam pelbagai situasi pola representatif (juru bicara) dari tingkah laku terlepas dari orientasi tugas dan orientasi individual. Tipe intelektual tidak dianggap sebagai pemimpin dalam beberapa definisi mutakhir walaupun diakui bahwa pemimpin dengan tingkat intelektual yang tinggi akan mendapatkan kesukaran dalam memperoleh dan mempertahankan pengikut. Literatur tentang tipologi kepemimpinan belum cukup memberikan pengaruhnya di dalam merangsang dan mengarahkan penelitian empiris.

Incoming search terms:

  • pengertian dominatif
  • arti dominatif
  • dominatif adalah
  • fungsi kepemimpinan
  • dominatif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *