UPAYA PENANGGULANGAN SAMPAH ANTARIKSA

By On Tuesday, August 4th, 2015 Categories : Bikers Pintar

Dengan mengacu pada apa yang dikatakan oleh Priyatna Abdulrasyid, Asisten Politik Luar Negeri MenkoPolkam dan pakar Hukum Antariksa Internasional, yakni “Hukum Antariksa (Space Law) merupakan seperangkat hukum yang diarahkan untuk mengatur hubungan antara negara, menetapkan hak dan kewajiban sebagai akibat dari segala kegiatan dan kesejahteraan kemanusiaan secara keseluruhan”, maka upaya penanggulangan terhadap sampah antariksa, perlu dilakukan baik secara hukum maupun teknis. Karena apabila dibiarkan berlanjut-larut tanpa penanganan yang serius, maka justru jumlahnya akan terus bertambah dan dapat mengganggu kegiatan antariksa lainnya.

Upaya Hukum.

Upaya hukum yang dimaksud perlu adanya suatu bentuk perumusan/penetapan tentang peraturan-perundang-undangan baik nasional maupun internasional yang secara hukum mampu menjamin perlindungan lingkungan hidup sebagai akibat dari dampak sampah antariksa.

Pengaturan hukum antariksa yang berkaitan dengan keantariksaan oleh Alfred Sitinjak (1989) dijelaskan bahwa berdasarkan hasil upaya Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) melalui UN-COPUOS dalam menciptakan aturan hukum internasional tentang kegiatan antariksa yang telah dicapai dapat dibagi dalam tiga kelompok besar, yaitu :

  1. Aturan hukum internasional yang telah

ditetapkan, berlaku sebagai hukum positif, yang meliputi Kna perjanjian, yaitu Space Treaty 1967, Rescue Agreement 1968, Li-ability Convention 1972, Registration Con-ventions 1975 dan Moon Agreement 1985 dengan masing-masing memuat aturan- aturan pokok sebagai berikut:

  1. Space Treaty 1967, yang memuat aturan-aturan pokok tentang keseluruhan masalah keantariksaan.
  2. Rescue Agreement 1968, yang memuat aturan khusus yang berkaitan dengan pemberian pertolongan terhadap astronout, pengembalian astronout dan benda yang diluncurkan ke antariksa dalam hal astronout ataupun benda tersebut mengalami kecelakaan, benca-na ataupun pendaratan darurat.
  3. Liability Convention 1972, yang memuat aturan yang berkaitan dengan per-tanggungan jawab suatu negara terha-dap kerusakan yang diakibatkan oleh benda antariksa millik negara tersebut bagi negara lain.
  4. Registration Conventions 1975, yang memuat aturan pendaftaran secara nasional kepada sekretaris jendral PBB tentang benda yang diluncurkan ke antariksa.
  5. Moon Agreement 1985, yang memuat aturan yang berkaitan dengan eksploitasi dan eksplorasi bulan dan benda-benda langit lainnya.
  6. Aturan hukum intermasional yang telah disepakati rumusannya oleh UN-COPUOS, telah di “adopt” oleh Sidang Majelis Umum PBB, tetapi belum diproses lebih lanjut un-tuk diberlakukan sebagai hukum positif, antara lain meliputi: hukum penyelenggara-an siaran televisi langsung internasional melalui satelit dan hukum pelaksanaan kegiatan penginderaan jauh dari antariksa.
  7. Aturan hukum internasional yang sedang dalam pembahasan oleh UN-COPUOS untuk mencapai kesepakatan, antara lain meliputi aturan hukum penggunaan sumber daya nuklir bagi wahana antariksa dan penerapan difinisi/deliminasi antariksa.

Mengacu pada kelompok pertama di atas, maka meskipun lima perjanjian internasional merupakan hukum positif yang mengatur kegiatan negara dalam melakukan eksplorasi dan penggunaan antariksa untuk maksud damai dengan memfokuskan pada dampak pencemaran terhadap keselamatan penerbangan antariksa, tetapi beberapa pasal diantaranya telah mengarah ke perumusan proteksi atas lingkungan antariksa.

Disamping lima perjanjian di atas, Supanca (1991) juga menngemukakan beberapa pertimbangan yang mungkin da-pat membantu untuk diterapkan dalam bidang lingkungan antariksa, antara lain adalah :

  1. Pengkajian oleh pakar lingkungan, khususnya terhadap dampak kegiatan antariksa.
  2. Prediksi dan antipasi terhadap bentuk, ukuran dan sifat kerugian sebagai akibat dari kegiatan antariksa.
  3. Peningkatan peranan PBB melalui pembentukan “group of expert”.
  4. Mencegah penggunaan antariksa sebagai ajang pacuan kesenjataan.
  5. Penyempurnaan terhadap ketentuan- ketentuan hukum yang ada khususnya yang berdampak lingkungan.

Upaya Teknis

Secara teknis upaya untuk mengurangi sampah di antariksa memang masih sulit dilakukan, misalnya dalam pencegahan ledakan terhadap benda antariksa/satelit, pengambilan satelit yang sudah tidak berfungsi dari orbitnya, pengeluaran satelit dari orbit bumi setelah masa orbitnya berakhir, dan lain sebagainya. Berkaitan dengan hal ini, maka beberapa upaya teknis yang dapat membantu penanggulangan terhadap pengurangan sampah antariksa antara lain adalah :

  1. Pelepasan mesin pendorong roket tingkat pertama termasuk boosternya harus dilakukan pada ketinggian yang masih cukup rendah, sehingga bekas tangki bahan bakar ataupun kelongsongan roket yang terlepas dari badan roket tidak ikut mengorbit melainkan jatuh ke bumi (ke laut) atau hangus terbakar karena gesekan dengan atmosfer.
  2. Pencegahan terhadap ledakan satelit yang non operasional atau sudah berakhir masa orbitnya dan sudah tidak berfungsijagi. Satelit tersebut hanya akan mempercepat penumpukan sampah di antariksa. Selain itu dapat juga dengan melakukan disain mesin roket sedemikian hingga bahan bakar / propelannya dapat habis terbakar.
  3. Penambahan roket retro pada setiap satelit yang diluncurkan ke antariksa untuk beroperasi mengorbit bumi. Roket ini diperkirakan akan menyala sebelum masa orbit satelit berakhir, sehingga dapat mengurangi kecepatan orbit satelit dan memungkinkan satelit dapat masuk ke atmosfir bumi.
  4. Pengambilan benda antariksa / satelit yang non operasional dan sudah tidak berfungsi lagi. Pengambilan ini dilakukan dengan cara menggiring benda antariksa atau sasaran tersebut, sedemikian hingga orbit penangkap dan orbit benda antariksa atau sasaran tersebut saling bersinggungan. Dengan cara demikian pengambilan ini akan mudah dilakukan.
  5. Pelontaran terhadap satelit khususnya satelit- satelit yang sudah habis masa orbitnya dan tidak berfungsi lagi di cincin GSO. Pelontaran ini dapat dilakukan setinggi 200 kilometer di atas cincin GSO, dengan maksud agar satelit itu tidak beroskulasi lagi dalam cincin tersebut, karena cincin ini memiliki dimensi dengan daya tampung yang sangat terbatas. Sebagai contoh satelit yang berhasil di-lontarkan ke luar GSO, antara lain: satelit milik Amerika Serikat, mantan Uni Soviet, Jerman, Perancis dan Indonesia (Palapa- A2).
UPAYA PENANGGULANGAN SAMPAH ANTARIKSA | ADP | 4.5